STORY21 - KISAH TANTE ALMIRA

Kisah Tante Almira - Sungguh sial ternyata aku hari itu, aku terjatuh dari motor karena disrempet seseorang yg tak bertanggung jawab dan langsung meninggalkanku begitu saja. aku pun sejenak tersungkur dipinggir jalan karena jalanan saat itu sedang sepi sekali. Aku pun berusaha bangkit dan menepi didepan sebuah ruah besar dgn tertatih-tatih. Sesudah aku sampe ditepi jalan aku duduk sembari menyenderkan tubuhku dipsupaya rumah besar itu, sembari terus menahan sakit di kaki dan tanganku.

Sesudah sekitar 15 menit aku menahan sakit tanpa ada yg menolongku, akhirnya ada sebuah mobil yg berhenti. Turunlah seorang perempuan setengah baya kira-kira usianya 37 tahunan dgn pakaian warna merah yg sangat seksi dgn kemudian mengahampiriku. Ditanyalah aku sama Tante-Tante itu, kenapa aku disitu dan aku pun menjelaskan kronologinya sembari terus melihat paha mulus Tante-Tante itu. Karena saat itu Tante menggunakan rok yg mini sehingga aku bisa melihatnya dgn jelas.


Sesudah aku selesai menjelaskan kronologi kejadian yg aku alami, akhirnya Tante itu mau menolongku dan mengajakku kedalem, tetapi sebelumnya Tante memasukkan mobilnya kedalem rumah besar yg tadi aku buat sandaran. Tak lama akhirnya Tante itu kembali dan membatu membopongku masuk kedalem rumahnya.

“Kamu duduk aja di sini, biar Tante ambilin obat ya…” kata perempuan itu dan segera masuk ke dalem kamarnya yg letaknya di depanku. Perkiraanku perempuan ini usianya sekitar 36, walaupun usianya ya… cukup tua sih. Tapi perempuan ini bodinya oke sekali deh, tingginya sekitar 165 cm buah dada yg montok berukuran sekitar 36B dan masih terangkat dgn menggunakan kaos yg longgar dan bokong yg besar sekali karena pada saat itu dia pakai rok pendek sampe lutut dan kelihatan betis yg mulus dgn ditumbuhi rambut halus.


Aku sempat berkhayal untuk memegang bokongnya yg besar sekali, kuremas-remas sembari memasukkan jariku ke lobang kenikmatannya. Sesudah beberapa menit dia mencari obat merah di kamarnya, dia memanggil anaknya,

“Ver.. Ver…ambilin minum tuh… buat Mas nya!” ternyata dia punya anak perempuan yg namanya Vera, usianya sekitar 18 tahunan. Sesudah berhasil menemukan obat merah, lalu menghampiriku.
“Wah… ini lukanya parah sekali …” sembari membuka tutup obat merah.
“Ah.. nggak kok Bu… biasa aja kok,” kataku sembari memperhatikan buah dadanya yg montok tergelantung itu. Cerita Sex 21+
“Nama Kamu siapa?” tanya Tante itu sembari meneteskan obat merah di lengan atasku.
“Robin Tante, aduh pedih sekali… pelan-pelan Tante…!”
“Maaf ya… Robin, oh ya nama Tante Almira,” katanya sembari meneteskan ulang obat itu di lengan atasku.

Dan tak disengaja buah dada Almira itu menyenggol sikuku.

“Oh… maaf Tante… tak sengaja,” tanyaku sembari melihat buah dada Almira yg memTanteat kemaluanku agak tegang.
Dia hanya tersenyum dan tertawa kecil.
“Lho… Robin yg kena yg mana lagi, kelihatannya celana kamu sobek tuh…” katanya sembari memegang celanaku yg sobek itu.
“Ya… Tante itu di bagian paha atas dan di dada ini,” sembari memTanteka sedikit kaos yg kupakai.
“Yg ini harus diobati loh, entar kalau tak cepet diobati berbahaya, kaki kamu bisa di luruskan nggak?” kata Tante Almira.
“Agak linu Tante… karena bagian paha sih…” kataku sembari mencari kesempatan melihat buah dada.

Pada saat itu tempat dudukku tak memungkinkan aku meluruskan kakiku.

“Ya… sudah ke kamar Tante dulu situ berbaring biar kakimu bisa diluruskan,” kata Tante Almira sembari membantuku berdiri dan berjalan.
“Ya… Tante… tapi…?” tanyaku ragu.

Nanti disangka macam-macam, tapi memang niatku untuk berusaha nge-sex sama Tante Almira yg montok itu.

“Tapi apa, oh… kamu malu ya… nyantai aja kamu kan teluka dan perlu pengobatan, sudah masuk ayo Tante bantu!” sembari melingkarkan tangan kanan di pundak Tante Almira aku berjalan.

Dan tak disengaja saat berjalan, jari-jariku menyentuh permukaan buah dada montok Tante Almira tapi aku tak merubahnya, malah kugesek-gesekkan dgn pelan-pelan supaya tak ketahuan kalau disengaja, terasa pentil buah dada Tante Almira yg kenyal menyebabkan kemaluanku tegang. Dan sampelah di tempat tidur Tante Almira.

“Sudah Robin, mana yg luka lagi?” sembari duduk di sampingku dan membelakangiku sementara aku terlentang, otomatis tanganku menempel di paha mulus Tante Almira.
“Di dada sini Tante,” kataku sembari memTanteka ke atas kaosku supaya kelihatan lukanya.
“Ya… sudah dilepas dulu kaosnya, entar kalau kena obat ini kan jadi merah,” katanya basa-basi.

Aku langsung Tanteka kaosku, dan sekarang aku telanjang dada.

“Nah gini kan bisa leluasa mengobati kamu,” sembari mendekat ke dadaku, dan otomatis aku melihat dgn jelas buah dada Tante Almira tergelantung dan ditutupi oleh Bra yg tak muat menampung besarnya buah dada Tante Almira dan tanganku makin kurapatkan ke paha dan sekarang sudah di atas paha mulus Tante Almira. Dan pada saat Tante Almira meneteskan obat, aku terasa pedih dan dgn refleks tanganku terangkat sehingga menyenggol buah dada Tante Almira dan rok mini Tante Almira terangkat ke atas, terlihat paha yg mulus itu.

“Maaf ya.. Tante, Robin tak sengaja kok,” pintaku sembari menurunkan tanganku ke paha Tante Almira yg mulus dan putih itu.
“Ya.. tak apa-apa kok,” sembari meneruskan meneteskan lagi di bagian dadaku yg luka.

Sekarang dia agak ke atas dan membungkukkan dirinya, otomatis buah dada yg montok itu dekat sekali dgn wajahku itu. Aku tak tahu ini disengaja atau tak, tapi Tanteatku disengaja atau tak tetap saja membuat kemaluanku makin tegang. Lama-lama kok posisi Tante Almira makin membungkuk dan sampe suatu saat buah dadanya tersentuh dgn bibirku. Wah, terasa kenyal dan empuk, aku tak diam saja, aku berusaha pelan-pelan menggeser tanganku yg di paha mulus Tante Almira itu, pelan dan pelan karena aku takut Tante Almira marah karena ulahku ini.

Dgn nafsu yg kutahan, aku gerak-gerakkan tanganku. Waduh.. paha orang ini mulus sekali, batinku sembari merasakan kemaluan yg menegang kepingin lepas dari sangkarnya celana dalem, dan sampelah aku di pangkal paha Tante Almira itu dan menyentuh celana dalem Tante Almira yg kelihatan memakai celana dalem warna hijau kembang dan kepalaku bergerak ke kanan dan ke kiri untuk menggesek buah dada Tante Almira (pelan-pelan), dan sesekali kujilat halus buah dada montok itu, saat itu Tante Almira diam saja dan terus mengobati dadaku yg luka tapi nafas Tante Almira tak bisa disembunyikan, sering dia menarik nafas panjang untuk menahan nafsunya.

“Sudah nihhh… Semua luka kamu di dada sudah diobati, sekarang mana lagi yg terluka?” sembari melihatku dan membiarkan tanganku di pahanya yg mulus itu.
“Itu Tante.. di paha atas,” jawabku sembari menunjukkan tempat yg luka.
“Wow… Ya ini harus dbuka Robin, kalau tak dTanteka dimana Tante bisa mengobati apalagi kamu pakai jeans yg ketat.. ya sudah dicopot aja!” jawab Tante Almira sembari melihat dgn dekat luka dari luar celanaku dan sesekali lihat kemaluanku yg sudah tegang dari tadi.
“Tante… bisa bantuin copot celanaku, aku tak bisa copot sendiri Tante, kan tanganku luka,” alasanku supaya Tante Almira bisa lihat kemaluanku dari dekat. Tiba-tiba Verona datang dgn membawa air putih.
“Mah ini airnya..”
“Ya.. sudah sekarang kamu keluar, e.. jangan lupa tutup pintunya, Tante mau obati Mas Robin dulu!”


Wah ini kesempatanku untuk melampiaskan hasrat Sex ku. Sesudah itu Tante Almira mulai membuka resleting celanaku dan membuka bagian atas dan aku mengangkat sedikit pinggulku supaya Tante Almira mudah melepas celanaku. Saat memuka celanaku, posisi Tante Almira membungkuk sehingga bibirnya dekat dgn kemaluanku yg tegang, dan aku sengaja mengangkat pinggul yg lebih tinggi dan tersembullah kemaluanku dan bibir Tante Almira… “

Sorry Tante.. gak sengaja,” mulai saat itu kemaluanku mulai tegang sekali karena cara Tante Almira membuka celanaku sangat merangsang kemaluanku.

Sembari sedikit menungging dan menggerakkan sedikit bokong yg besar itu, Tante Almira melepas celana jeans-ku “apa ini usaha Tante Almira untuk merangsang nafsuku”, dan akhirnya aku sekarang tinggal pakai celana dalem. Dan mulailah Tante Almira mengobati paha atasku dgn posisi nungging membelakangiku dan sedikit siku tangannya menyentuh kemaluan yg sudah tegang. Sesekali Tante Almira melihat kemaluanku dan menggesek-gesekkan sikunya di kemaluanku itu. Dgn melihat gelagat Tante Almira ini yg memberi peluang padaku, aku tak diam aja.

Dgn melihat bokong yg besar menghadap kepadaku, tanganku mulai sedikit meremas-remas dan mengelus betis lalu menuju ke atas paha yg mulus dan akhirnya aku sampe ke paling atas bokong mulus Tante Almira dan aku nekat mengangkat rok mini Tante Almira ke atas sehingga sekarang terlihat bokong Tante Almira yg mulus itu dgn ditutupi celana dalem yg menyelepit di belahan bokong.

Aku mulai mengelus-elus, dan sesekali menarik celana dalem Tante Almira dan ternyata sudah basah dari tadi.Lalu aku memainkan jariku di permukaan kemaluan yg tertutup celana dalem itu, Tante Almira mungkin sudah tahu gelagatku itu sehingga dia merenggangkan kedua pahanya, jadi sekarang terlihat jelas celana dalem Tante Almira yg basah. Sekarang aku memberanikan diri untuk melihat secara langsung kemaluan Tante Almira yg kelihatan sudah tak sabar untuk dimasuki rudalku yg sudah tegak berdiri. Akumulai menggeser celana dalem Tante Almira ke kiri dan kelihatan dgn jelas kemaluan Tante Almira yg sudah memerah itu. Lalu aku perlahan-lahan menggesek-gesekkan jariku di permukaan kemaluan Tante Almira dan dgn reaksi itu nafas Tante Almira mulai tak beraturan,

“Eeehhh… ahhh… ohhh hemmm..” dan sekarang aku memasukkan jari tengahku ke lobang kenikmatan Tante Almira dgn pasti dan kukocok dan terus kukocok dgn pelan-pelan dan lama-lama semakin cepat dan…
“Ah.. oh yes te… rus… please… ah… ohe.. lebih dalem.. Deerr…
“Tante Almira mulai membuang obat merah itu dan sekarang tak mengobati lukaku lagi malah sekarang dia sudah mulai mengocok dan meremas dgn kuat kemaluanku.

Aku kurang puas dgn posisi ini, aku mulai mengangkat salah satu kaki Tante Almira ke sampingku dan sekarang posisi 69 yg kudapat, dan kemaluan Tante Almira tepat di depan bibirku. Aku mulai menjilat klitorisnya, dan kusedot kecil dan kupermainkan pinggir kemaluan Tante Almira dgn lidahku yg indah itu.

“Oh.. ya… enak sekali hisapanmu … Oh aughhh ahhh yes… terus!” dan aku mulai memasukkan lidahku ke dalem lobang yg basah itu dan terasa asin tapi gurih.
“Oh… ah… terus… Kemaluan kamu tegang sekali Robin…”
“Ya.. Tante jilat… jilat dong..!”
Tanpa banyak kata Tante Almira terus melumat habis kemaluanku.
“Oh… ya… ya… terus yg keras lagi…!”

Tante Almira memang lihai dalem hal oral, tak satu bagian pun dari kemaluanku yg terlewatkan dari lidah birahi Tante Almira. Telur kemaluanku terlahap juga dgn bibir binalnya. Tante Almira tak puas sampe di situ, sekarang dia mengangkat bokongku lebih tunggi dan kelihatan jelas lobang duburku dan sekarang mempermainkan lidahnya di lobang duburku. Oh, terasa geli bercampur nikmat sampe ujung ramTantet, pada saat itu juga Tante Almira tak kuat menahan nikmat yg dia rasakan, dan aku tahu kalau Tante Almira mau orgasme yg pertama kalinya, aku mempercepat gerakan lidahku diklitorisnya, dan mempercepat kocokkan jariku di kemaluannya dan akhirnya…

“ah ye.. yea.. aku tak tahan.. a.. ku.. ke.. luaaar…” dan
“Serr… serrr..” terasa semprotan kuat dari kemaluan Tante Almira kena jariku.

Cairan putih kental yg keluar dari kemaluan Tante Almira kusedot habis sampe bersih cairan kenikmatan Tante Almira tersebut. Dia sekarang tergeletak lemas di sampingku.

“Tante Almira masih kuat? Apa cukup saja Tante?” tanyaku disamping memelintir pentil buah dadanya ygkuharapkan hasrat sex Tante Almira kembali lagi dan terangsang.
“Ah.. kamu jantan sekali! Aku tak nygka kamu kuat sekali, kamu belum keluar?” tanya Tante Almira sembari mengocok halus kemaluanku yg masih tegang itu.
“Belum Tante! mau lagi atau…”

Belum aku berhenti ngomong Tante Almira mulai memasukkan kemaluanku ke bibirnya dan dijilat, disedot dan dikocok, sedangkan aku di pinggir tempat tidur dan Tante Almira di atas tempat tidur dgn posisi nungging, dan aku tetap meremas-remas dan sesekali kupelintir-pelintir pentil Tante Almira itu.

“Aah… terus Tante…! lebih dalem Tante…! yes hemmm Aah… sessttt aahh…”

“masukin aja ya… aku pingin ngerasain kemaluan kamu ini,”

Lalu aku memutarkan tubuh Tante Almira dgn posisi nungging dan aku mulai mengarahkan kemaluanku ke lobang Tante Almira tapi aku tak langsung memasukkan kemaluanku, kugesek-gesek dulu ke permukaan kemaluan Tante Almira.

“Ah.. ya… masukkan Binnn.. cepet aku tak tahan nih… oh… ce… pet!”
Aku langsung memasukkan ke lobang Tante Almira.

“Blesss… sleppp…”

“Ah… ye…” erang Tante Almira menerima serangan batang kemaluanku.Aku mulai memajukan dan memundurkan kemaluanku dgn pelan tapi pasti dan sekarang aku tambah frekuensi kecepatan kocokanku.
“Ah… ya.. kemaluan kamu.. hebat Binnn.. keras, te.. rus.. oh.. ssst… ah…”

Aku semakin terangsang dgn erangan Tante Almira yg menggeliat-liat seperti cacing kebakar. Aku angkat kaki kanannya untuk mempermudah jelajah kemaluanku untuk sampe ke rahimnya dan makin mempercepat kocokanku.

“Oh ya.. aughhh.. ssttt teruss.. jangan ber.. henti.. ah… ke.. rass.. Robin.. hebat…” Dan akhirnya,
“Binnn… lebih cepet…! aku mau ke.. luar.. aku.. tak… oh.. ye.. tahan… la.. gi.. ah… oh shhh…”

Dan akhirnya dia menyemprotkan cairan kenikmatannya,


“Serr.. serr…” terasa ujung kemaluanku disemprot dgn cairan hangat yg kental. Sekarang Tante Almira tergulai lemas di hadapanku. Aku memperhatikan tubuh Tante Almira yg montok dgn buah dada yg besar, dgn telanjang Tantelat tanpa sehelai benang pun.

Aku tetap mengocok sendiri kemaluanku biar tetap tegang, dan aku mulai tak kuat, mungkin ini saatnya aku untuk mengakhiri permainan Sex ku.


“Tante… permisi, aku mau mengakhiri tugasku ini…”

Dgn mengangkat tubuh Tante Almira ke pinggir tempat tidur, dan memTanteka lebar-lebar paha Tante Almira sehingga terpampang kemaluan Tante Almira yg masih basah dgn cairan kenikmatannya, aku mulai memasukkan kemaluan dan mengocoknya.

“Ah.. kau nakal ya.. Binnn.. aughhh hemmm.. terus Binnn…”

Aku dgn semangat kukocok habis kemaluan Tante Almira dgn menggesek-gesek klitorisnya dgn jari jempolku untuk mempercepat dia untuk orgasme ketiga kalinya, dan…

“Tante… aku mau ke… luar.. ah.. ye… di.. mana.. ini… dalem atau di luar… oh ye!” sembari mempercepat kocokan jari dan kemaluanku.

“Ya.. aku juga Robin… uh.. uh.. hemm… sstt.. kita.. barengan di dalem.. oh ye..”

Tante Almira tak kuat lagi ngomong kecuali merem-melek tahan nafsu, dan akhirnya aku keluar di dalem kemaluan Tante Almira,

“Crottt.. crottt…” sampe lima kali semprotan dan dibarengi dgn erangan dan getaran tubuh Tante Almira,

“Oh… yak.. yes… hemmm…” Lalu kucabut kemaluanku dan kupukul-pukulkan di permukaan kemaluan Tante Almira dgn reaksi Tante Almira mengangkat tubuhnya akibat kemaluannya kupukul dgn kemaluanku.

“Tante Almira hebat sekali deh, makasih ya Tante…”

“Kamu juga hebat banget Robin.. Tante sampe kualahan menghadapi Kemaluan kamu yg tegap ini. Wah… Kemaluan kamu ini harus dibersihkan dulu ya…”

Dia langsung mengarahkan kemaluanku ke bibirnya dan dilahap langsung dan dikocok-kocok habis.

“Wow… oh… ye.. teruus.. yesss… sseessttt ahh ya…”

Ini membuatku tegang lagi, dan Tante Almira tak henti-hentinya mengocok dan mengulum kemaluanku yg tegang sekali.

“Tante… stop.. augghhhh he… stooop aku.. tak.. tahan..” Dan…
“Croot… croottt… Croot… croottt… Croot… croottt… Croot… croottt…”

Kukeluarkan air maniku untuk kedua kalinya di wajah Tante Almira, dan aku tergeletak lemas di atas buah dada Tante Almira.

“Nah.. sekarang kan Tante Almira tak kalah banget toh.. ya.. dua-tiga lah…!”
“Makasih ya.. Binnn… kamu hebat dalem permainan sex, kapan-kapan kita lagi ya.. sudah kamu tidur dulu deh!”

Cerita Sex 21+ - Lalu aku tertidur sampe malam, dan sebelum pulang ke kostku, sempat Tante Almira minta untuk oral sekali lagi.
Share this Post Share to Facebook Share to Twitter Email This Pin This Share on Google Plus Share on Tumblr

0 komentar:

CERITA SEX 21+ © 2014. All Rights Reserved | Powered By Blogger | Blogger Templates

Designed by-SpeckyThemes