STORY21 - NGENTOT AURA KASIH

Ringkasan ini tidak tersedia. Harap klik di sini untuk melihat postingan.

STORY21 - KEPULANGAN GAIRAH

Kepulangan Gairah

“Di tepian sungai serayu… ”
Tiba” aku mendengar lagu keroncong ini, yaaku sudah sampai di kampung halamanku Purwokerto.
Perjalanan darat menggunakan kereta eksekutif membuat waktu 5 jam dari Jakarta menjadi amat tidak terasa.
Ya, akhirnya aku bisa pulang kampung setelah lama sekali tidak pulang.
Hey, perkenalkan aku Adli pria berusia seperempat abad yang mencari nafkah di Ibu Kota.
“Jon, dimana kamu? Aku sudah sampai stasiun”
“Ya, aku ada di pintu keluar nih. Kemarilah”. Sahut Joni menerima telfonku.
Akhirnya ketemu juga si dedengkot kampungku ini.
” Mau langsung ke rumah dli? ”
“Iyalah, gw capek banget nih.” Timpalku kepada Joni.
“Tapi mampir bentar ya sembari pulang”
“Ya iya gapapa jon”.

Joni ini kawan SMA ku, dia terkenal amat playboy di sekolah. Hampir tiap bulan dia berganti” pacar. Dari yang adik kelas, sampai kakak kelas semuanya pernah dia pacari. Aku pun tahu kelakuannya semua, tetapi dibalik itu ia adalah anak yang baik dan ringan tangan dalam membantu teman”nya. Cerita Sex 21+

“Nah, sampai dli. Ayo masuk! ”
“Kos siapa ini Jon?”
“Biasa… ”
Belum sempat Joni menjawab, kami dikejutkan oleh kemunculan sosok wanita cantik yang muncul dari pintu kos.
“Hai beb, kok lama banget sih?” Tanya wanita tersebut
“Oh ini aku sekalian jemput Adli, kawanku yang baru balik dari Jakarta”.
“Halo aldi, aku Lia pacarnya Joni”. Sahut wanita ini
” Oya lia, namaku Adli”.
“Yuk masuk semua”.

Aku menyusuri lorong bangunan kos ini, hmmm sepertinya bangunan baru.
Soalnya terakhir aku pulang belum pernah melihat bangunan ini berdiri di sini.

“Lia aku numpang ke toilet ya” Ijinku padanya
“Ya di belakang itu toiletnya dli”
Buru” Aku ke kamar mandi, sudah lama ku tahan rasa ingin kencingku ini.
“Dli, kalau mau istirahat rebahan aja di depan TV ya, ada matras.” Sahut dia dari luar Kamar mandi.
Tak lama berselang aku pun selesai menunaikan hajatku. Bergegas aku ke depan untuk berkumpul bersama jonindan lia.
Tapi tak ku lihat Joni dan lia ada di depan, kurasa mereka berdua keluar sebentar. Ah biarlah aku mau istirahat dulu di sini gumamku dalam hati.
Sayup” ku dengar suara kecil dan rintihan, ku kira ada makhluk astral di sekitarku.
Aku coba untuk cuek dan bermain hp, tapi suara itu terdengar lagi dan memiliki ritme yang semakin cepat.
“Ah.. Ah… Ayojon teruss… ‘
” Iya lia sayang, aku entotin terus memek kamu”
“Ah iya joni ku sayang”
Dan ternyata suara itu terdengar dari kamar lia yang bersebelahan dengan ruang tv.
“Emang ga berubah si joni, ckckck masih aja main ginian ga liat sikon”.
Sudah bukan asing lagi bagiku mengetahui kelakuan joni yang satu ini, tak pernah berhenti sepertinya dia untuk bersenang” dengan wanita.
Saking penasaranku dengan desahan itu, ku beranikan diri untuk mengintip dari lubang yanga da di dinding kamar ini.
Ku berdiri di lorong yang meghubungkan ruang tengah dan dapur.
Posisi kamar berada dintengah antara ruang tv dan dapur/kamar mandi. Walau begitu bagian kamarnya berdinding sehingga tidak “ngeblong” Seperti kos petakan pada umumnya.

Ku lihat permainan joni dan lia dari lubang dinding, wah sungguh indah pemandangan di depanku ini.
Lia yang mempunyai bodi sungguh indah, lekukan tubuhnya bak gitar spanyol, payudaranya kencang dan bulat seperti melon, dan juga bongkahan pantat yang sangat montok. Ditambah bagian vaginanya yang pink terawat.
Sedikit samar ku lihat Lia berada di posisi WOT, di memaju mundurkan tubuhnya di atas Joni. Payudaranya yang besar pun berguncanv dengan dahsyat, muka sange lia pun sangat mempesona dengan mulut yang menganga.
Tak lupa joni melumat puting” lia dengan lahapnya sesekali diremasnya. Taklupa bongkahan pantat pun diremas dengan ganasnya.
Aku yang melihatnya tak bisa menahan diri, hingga adik kecilkupun memberontak dari tidur lelapnya. Tak sadar, tangankupun mulai merogoh celana bagian depanku. Mengelus” Kepala kontolku yang membesar, perlahan ku kocok naik turu mengikuti ritme lia yang sedang mengulek tubuh joni.
Semakin lama semakin ku kencangkan kocokanku, lia juga mulai menaikkan tempo permainannya.
“Ah joohn … Aku mau keluar”
“Iya sayang ayok bareng”… ”
Akupun yang terbawa tempo pun mulai mengikuti gerak mereka..
“Ah joniii… Aa….. Kkkkkkk… Klllllluuuaaarrr…. Aahhhhh”.
” Aku juga lia sayangggg.. Aahhhhhh….. ”
Begitu juga denganku yang sudah tidak tahan mengeluarkan muntahan tinta putihku ini.
Segera ku berlali ke kamar mandi dannn.
“Ahhh…” Aku pun keluar juga,
Setelah semua air maniku keluar, aku segera membersihkannya supaya joni tak curiga.

“Dli dli.. Udahan belom? Lama amat.. Lagi coli ya?! ”
“Yeee enak aja, gw sekalian boker ini. ”
Untung waktuku masuk kamar mandi cukup tepat, karena iki joni sufah keluar dan berada di depan kamar mandi.

STORY21 - ADIK IPAR MELAYANI NAFSU ABANGNYA

Adik Ipar Melayani Nafsu Abangnya

“bila abang dah perasan milah tak pakai seluar dalam, milah goda la abang… milah kangkang luas2 bagi abang geram kata saya lagi.

“betul ke ki kak… kakak tak main2 ke… Tanya milah.

“laaaa.. betul la… ingat kakak sengaja nak perangkap milah ke… Tanya saya.

“ye la kak… memang la milah adik kandung abang… tapi kan kakak isteri dia… kata milah.

“betul ni milah akak tak main2, dari abang cari lubang lain keluar rumah tak tentu masa, langsung terabang anak2 akak, nasib la milah selamatkan keluarga kakak. Kata saya.

“kalau milah terlebih kakak jangan marah ye… kata milah.

“kalau milah berani nak bogel kat depan tu pon kakak tak kisah.

Lepas makan malam kami anak beranak duduk mengadap TV, saya baring dilantai, suami saya pula duduk di sofa. Milah datang berbaju kelawar dan duduk menghadap abangnya membelakangi saya.

Samar2 Saya Nampak dari cermin almari TV milah duduk mengangkang didepan abangnya. Saya tak Nampak riaksi suami saya, hampir setengah jam saya biarkan mereka tak tau apa isyarat yang suami saya tunjuk pada milah. Saya bangun pelahan2 dan berkata

“bang… sayang masuk bilik dulu la.. ngantok pulak mata ni, anak2 dah lama hanyut dibuai mimpi, tinggallah suamiku dan adiknya di depan TV. Tak lama tu lampu depan rumah dipadamkan hanya cahaya TV sahaja menerangi ruang depan. Pelahan2 saya turun dari katil dan mengendap.

Apabila cahaya TV terang saya Nampak suami saya sedang jilat cipap adik kandungnya, milah menutup mulutnya supaya tidak berbuat bising. Suami saya bangun dari celah kangkang adiknya dan menuju kebilik saya. saya naik teatas katil semula dan mematikan diri.

“yangggg…. Ooo…. Yang…. Suami saya gerakkan saya.

“ye bang kenapa.. Tanya saya.

“abang keluar kejap pi beli rokok kata suami saya.

“hhhmmm jawab saya.

Saya tau suami saya akan keluar ikut pintu depan dan akan masuk ikut pintu belakang sebab bilik milah dekat dengan pintu belakang. Kan betul jangkaan saya, pintu belakang rumah engselnya sudah karat apabila pintu dibuka dan tutup akan mengeluarkan bunyi. Saya biarkan dalam 10minit.

Perlahan2 saya berjalan ke dapur dan mendengar pasangan sumbang mahram itu berbual. Saya terus lekatkan telingan saya pada dinding papan bilik milah, jelas mendengar dua beradik tu berbual.

“abang tak takut ke kakak tau abang masuk bilik milah tanya adiknya.

“kenapa milah goda abang tadi, ha..sekarang ni abang dah tak tahan milah kena la keluarkan air abang, kata suami saya.

“kalau kantoi camne bang.

“milah tolong la abang jawab kat kakak,

“nak cakap apa bang…

“milah cakap la milah kesian kat abang lagi pon bukan orang lain.. kata suami saya pada milah.

“sebab adik beradik la milah takut bang….

“kalau orang lain lagi terok abang kena mlah ooiii… mesti akak lari rumah, kata suamiku.

Masih kuat sayang suami saya pada saya, kata saya dalam hati.

“bukak la baju tu bang..kata milah.

Puas saya mencari lubang2 kecil untuk mengendap tetapi tak jumpa. Keadaan dalam bilik senyap sunyi tak tau apa mereka buat.

“bang…jilat lagi bang… kata milah.

Saya rasa milah tau yang saya ada disekeliling biliknya, milah tak behenti2 mengoda dengan nada yang gairah.

“abangggg….milah dah tak tahan ni…. Sedut lagi bangggg.. aahhh..aahhh eeerrrrr…. Sedapnya banggg…

“lain macam nafsu adik abang malam ni. Kata suami saya.

“ye la bang…. Dah 2hari cipap milah tak dapat lidah abang kata milah mengoda.

“abang baring biar milah isap batang abang,

“bang.. kalau kakak main dengan orang lain abang marah tak.. tiba2 soalan tu keluar dari mulut milah. Lama juga saya tunggu jawapan dari suami saya.

“sapa yang nak main akak tu… bila masa akak nak melayan lelaki lain.. kata suami saya.

“kenapa abang cakap macam tu.. Tanya milah.

“kakak kau tu bizi memanjang nak pulak masa covid ni langsung tak menang tangan, sana sakit sini sakit 24jam kat Hospital tu bila masa nak main.. kata suami saya.

Suami saya sangat percayakan saya, sikit pon tak curiga pada saya.

“dah cepat la.. karang kakak terjaga pulak, kata suami saya.

“abang baring je biar milah naik atas abang, kata milah.

“aaaahhhhhh……. Sedapnya bangggg… dua hari tak rasa macam setahun rasanya… kata milah.

terdengar hentakan betalu2 mungkin milah tengah henjut abangnya.

“abanggg… milah dah nak sampai ni… aaaahhhhh…aaahhhhh…

“jangan kuat sangat suara tuuu… nanti kakak dengar… kata suami saya.

“biarlah kakak dengar,biarlah kakak tau yang suaminya main adik kandungnya sendiri.. tadi abang cakap suruh milah tolong cakapkan… jadi biarlah kakak dengar.. kata milah.

“kakkk…. Sedapnya batang suami kakak ni… izinkan milah ambil alih tugas kakak bila kakak balik KL nanti ye… milah berfantasi mengoda nafsu suami saya.

“gatalnya adik abang ni… kata suami saya.

“gatal dengan abang sendiri suami kepada kakak ipar milah.

“milah nak baring, kata milah,

“haaakkkkk…. Adoi bangggg senak rasa.. jangan la tekan kuat sangat…batang abang tu dah la panjang… kata milah..

“abang geram kat milah.. gatal sangat.. tunggu la kakak balik KL.. teruk abang kerjakan nanti.

“buatlah sesuka hati abang, milah akan taat pada abang, kata milah.

“dik.. abang nk pancut dah ni.. kata suami saya.

“abang… milah nak air abang… pancut dalam mulut milah bang… cepat bang keluarkan air bang goda milah.

“aaaahhhh…arrrrrr….. sedut lagi dik… kata suami saya.

Saya perlahan2 bejalan menuju kebilik saya semula, lama juga baru suami saya datang kebilik salin kain pelikat dan terus baring disebelah saya.

Selepas sarapan pagi suami saya ke jeti membeli ikan untuk dibuat lauk makan tengah kari dan malam.

“amboiiii… kemain lagi dia semalam… macam laki bini, kata saya.

“akak yang suruh, milah ikut la apa yang kakak suruh.

“milah kena janji dengan kakak, kata saya.

“janji apa kak.

“milah tolong layan abang bila abang nak, kakak tak nak dia pi cari pompuan lain, yang kat luar tu kita tak tau bersih ke tak. Kata saya.

“milah janji kak, kalau lah abang tu bukan abang kandung milah, milah sanggup bermadu dengan kakak. Kata milah.

“sekarang ni milah lebih dari madu, kakak dapat rasakan adik beradik main lagi seronok. Kalau lah abang kakak nak kat cipap akak ni… kakak mesti kangkang depan dia. Kata saya.

Dalam hati saya biarlah saya seorang saja yang tau kecurangan diri saya.

Esok saya akan balik ke KL. Saya mintak suami saya bedal saya sepuasnya. Sebelom bertolak ke KL sempat kami main seround dan saya bawa bekal air mani suami saya dalam cipap saya. terasa basah seluar dalam saya disebabkan air mani suami saya.

STORY21 - PENYIKSAAN TERHADAP SPG MONTOK

Penyiksaan Terhadap SPG Montok ini muncul karena ulah SPG sombong yang menjaga pameran otomotif di salah satu plaza di kotaku. Pada waktu itu aku dan teman-temanku (berempat) sedang jalan-jalan ke plaza itu, lalu kami melihat ada pameran mobil di sana. Iseng-iseng aku dan teman-teman melihat mobil-mobil yang memang keren-keren itu, meskipun penampilan kami memang sangat jauh dengan pengunjung-pengunjung lainnya yang rapi-rapi.

Sekalian cuci mata juga, soalnya para SPG-nya cantik-cantik dan putih-putih serta mulus-mulus, mereka memakai rok mini yang benar-benar serasi dengan tubuh mereka yang langsing dan tinggi, kaki mereka yang jenjang sangat indah dipandang dari ujung kaki sampai ke paha yang terbalut rok mini ketat warna merah. Wajah mereka yang rata-rata Indo seperti bintang sinetron sangat menyenangkan untuk dipandang, memang sangat cocok untuk mendampingi mobil-mobil mewah yang sedang dipamerkan.

Sambil melihat, kupegang-pegang saja mobil yang di pamerkan dan kucoba membuka dan metutup salah satu pintunya. Tiba-Tiba.., “Mas, tolong kalau mau lihat ya dilihat saja, jangan dipegang-pegang, nanti harus dibersihkan lagi”, aku menoleh ke arah teguran itu berasal, ternyata teguran tersebut berasal dari salah seorang SPG yang cantik, meskipun aku tersinggung, aku sempat tertegun melihat paras dan body cewek SPG yang satu ini. Wajah SPG yang ini seperti campuran Indo Belanda, kebarat-kebaratan seperti itulah. Cerita Sex 21+

Masih setengah sadar, SPG itu ngomong lagi, “Tolong minggir dulu ya.. ini ada pembeli yang mau lihat”. Aku menoleh ke sekitar, “Mana pembelinya..” pikirku, yang ada masih lihat-lihat mobil di sebelah, kali ini aku serasa benar-benar dilecehkan oleh SPG itu, dalam pikiranku, “Sombong sekali cewek satu ini.. padahal kan dia juga sebagai penjaga, belum tentu bisa beli mobil itu juga.” Sambil berpikir begitu, tak terasa aku bertatap pandang dengan cewek SPG itu, yang lebih mengesalkan wajahnya seakan-akan melihatku sebagai makhluk yang tidak sepantasnya berdiri di situ. Kulihat juga senyumnya yang benar-benar menyebalkan, seolah-olah menantang dan sudah menang. Seraya tersenyum aku minggir juga.

“Ayo, cabut!” aku mengomando teman-temanku dengan nada yang masih kesal karena pelecehan tadi. Aku langsung mengarahkan mereka ke tempat parkir dengan tidak menyembunyikan wajah yang kesal. Mobil Espass kami pun meluncur. Sepanjang perjalanan, kami terdiam, teman-temanku tahu aku masih kesal, jadi mereka agak malas ngomong.

Setelah beberapa saat Aguk yang memegang kemudi memecah kesunyian, “Kenapa lu? masih kesal sama SPG itu?” tanyanya kepadaku. Belum sempat aku menimpali, Bimo buka suara, “Lu nggak remas aja pantatnya, biar tau rasa dia.” Tawa mereka berderai, tapi aku masih diam, melihat gelagatku yang tidak bisa diajak bercanda, teman-temanku ikutan diam. Tiba-Tiba Dodot mengeluarkan ide bagus, “Eh.. gimana kalo kita culik aja tuh cewek!” Hatiku yang kesal ini bagaikan mendapat siraman air yang menyegarkan, “Betul juga”, pikirku, “Biar ntar dia rasain gimana akibatnya kalau melecehkan aku” Aku tersenyum menyeringai ke arah Dodot, dan kami langsung memutar mobil ke arah plaza itu lagi.

Jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam, mulai terlihat karyawan-karyawan dari plaza tersebut keluar untuk pulang. Kami dengan sabar menunggu di depan plaza itu sambil mengawasi orang-orang yang keluar.
“Gimana kalau keluar dari samping pertokoan?” tanya Bimo.
“Ah.. ya berarti nasibnya beruntung”, jawabku cepat.
“Itu! itu!” Dodot setengah berteriak menunjuk ke suatu arah. Mata kita semua langsung menjelajah ke arah yang ditunjuk Dodot.
“Bagus!” pikirku ketika melihat si SPG berjalan keluar plaza untuk mencari kendaraan. Dia bersama seorang temannya yang kelihatannya SPG juga, sudah mengenakan sehelai kain untuk menutupi roknya yang mini, mereka berjalan menelusuri trotoar, rupanya rute angkutannya bukan di jalan ini. Kami segera membuntutinya pelan-pelan sampai mereka berhenti di perempatan yang sudah dikuasai oleh banyak angkota. Mereka langsung masuk ke salah satu bemo yang ada, begitu bemo tersebut berangkat, kami pun langsung mengikutinya.

Sampai di sebuah jalan, yang untungnya sepi sehingga sangat mendukung operasi kami ini, si SPG turun. Tidak sedikit pun dia menaruh curiga bahwa sebuah mobil telah mengikuti angkutannya sejak tadi. Setelah bemo tersebut meninggalkannya cukup jauh, kami mulai mendekati SPG itu yang kelihatannya masih harus berjalan kaki untuk mencapai rumahnya. Tanpa buang-buang waktu Aguk mensejajarkan mobil kami di samping SPG itu dan Dodot langsung membuka pintu samping Espass. Kulihat SPG tersebut terkejut melihat ada mobil yang sangat dekat dengan dirinya, dan tanpa disadari tangan Dodot sudah merenggut tangan dan menarik tubuhnya ke dalam mobil. “Srreekk..”, pintu samping ditutup, mobil kami langsung melaju tanpa bekas, sementara si SPG masih kebingungan dan akan berteriak, tetapi dengan sigap Bimo langsung menutup mulutnya sehingga yang terdengar hanya gumaman. Si SPG mencoba meronta, namun sebuah pukulan ditengkuknya yang diluncurkan oleh Dodot membuatnya langsung pingsan.

Aku menoleh ke belakang, Bimo dan Dodot tersenyum memandangku seolah-olah ingin menyatakan bahwa operasi penculikan sudah berhasil. Kulihat kain yang menutupi rok mininya tersingkap, dan meskipun di dalam mobil gelap, aku masih dapat melihat pahanya yang mulus. Dodot pun tak tahan langsung memijat dan meraba paha yang mulus itu. Mobil kami langsung meluncur ke rumah Aguk yang memang kosong dan biasa sebagai tempat kami berkumpul.

Setelah sampai dan memarkir mobil di garasi, kami menggendong SPG yang masih pingsan itu ke dalam kamar. Di sana kami mengikatnya pada kursi kayu yang ada. Aku duduk di ranjang menghadap SPG yang masih lunglai itu yang terikat di kursi kayu. Teman-temanku kelihatannya memang menghadiahkan SPG itu ke padaku untuk diperlakukan apa saja.

– Dot.. ambilin air.” Dodot keluar kamar dan tak lama masuk dengan segelas air yang disodorkan kepadaku. Aku berdiri dan menyiramkan pelan-pelan ke wajah SPG itu. Ketika sadar, SPG itu terlihat sangat terkejut melihatku di depannya, “Kamu..” katanya seraya menggerakkan tubuhnya, dan dia sadar kalau tubuhnya terikat erat di sebuah kursi. Kali ini aku yang tersenyum, senyum kemenangan. “Mau apa kamu?” masih dengan sombong SPG itu bertanya setengah menghardik kepadaku. “Kalau kamu macam-macam, aku akan teriak”, lanjutnya lagi. Aku hanya tersenyum, “silakan saja teriak, nggak bakal terdengar kok”, kataku sambil menyalakan tape si Aguk, kebetulan lagunya dari band Metallica, Unforgiven, kusetel agak keras, meskipun aku yakin bahwa kamar Aguk letaknya terisolir, jadi tidak mungkin teriakannya didengar orang lain.

Ketakutan mulai terlihat di wajah SPG itu, wajahnya yang cantik sudah mulai terlihat memelas memohon iba. Namun kebencian di hatiku masih belum padam, aku ingin memberinya pelajaran!
“Siapa namamu?” tanyaku dengan nada datar.
“Vera”, jawabnya.
“Ampun Mas, maafkan aku, aku disuruh boss untuk bersikap begitu”, katanya seolah membela diri.

Tidak peduli dengan pembelaan dirinya, langsung kusibakkan kain yang menutupi roknya, lalu dengan kasar kutarik roknya hingga ke pangkal paha. Vera menatapku ketakutan, “Jangan, jangan Mas..” ucapnya memelas seakan tahu hal yang lebih buruk akan menimpa dirinya. Lagi dengan kasar kutarik bajunya sehingga kursi yang didudukinya bergeser dan kancing bajunya hampir lepas semua. Terlihat oleh kami bulatan payudara yang masih tertutup BH berwarna putih. Tak tahan melihat itu Aguk dan Dodot yang berdiri di sampingnya langsung meremas-meremas payudara itu. Vera sangat ketakutan, ditengah ketakutannya dia berusaha meronta, namun hal itu semakin meningkatkan nafsu kita. Jari-jariku langsung meraba secara liar daerah liang kewanitaannya yang masih tertutup CD, mengelus dan berputar-putar dengan lincah dan sekali-sekali mencoba menusuk. “Tidakk.. tidakk..” Vera berkata lirih seolah ingin menolak takdir.

“Breett.. breett..” kubuka dengan paksa seluruh baju Vera sehingga yang terlihat hanya BH dan CD-nya saja. “Naikkan ke atas meja”, kataku, serta merta ketiga temanku langsung bekerja sama memegangi Vera dan mengikatnya di atas meja. Vera meronta-ronta sekuat tenaga namun tentu saja usahanya tidak mampu melawan tiga tenaga cowok. Sekarang dia sudah telentang di atas meja dengan tangan terikat di sudut-sudut meja, kedua kakinya agak menjulur ke bawah karena mejanya tidak cukup panjang, namun kami mengikatnya secara terpisah pada dua kaki meja. Kami sendiri posisinya sekarang di samping tubuhnya. Lalu dengan sekali tarik kulepas BH-nya dan menonjollah dua bagian payudaranya yang cukup padat berisi. Sekarang kami melihat sebuah tubuh yang putih mulus dan langsing dengan tonjolan payudara yang bergoyang-goyang karena Vera masih berusaha meronta. Karena meronta, terlihat CD-nya yang agak transparan semakin mengetat memperlihatkan lekuk-lekuk liang kewanitaannya.

“It’s showtime!” teriakku yang disambut oleh kegembiraan teman-temanku dan wajah ketakutan Vera. Aku langsung mengambil beberapa karet gelang, lalu kulingkarkan di payudara Vera sampai terlihat mengeras dan merah. “Aduhh..” erang Vera, masih kutambah penderitaannya dengan menjepitkan jepitan yang biasa digunakan Aguk untuk alat elektronik, bentuknya bergerigi dan terbuat dari logam tipis yang di-chrome, kujepitkan di kedua puting susunya. “Aduhh.. ahh.. aduuhh” Vera mengerang kesakitan. Aguk lalu memberiku sebuah alat seperti pecut, yang terbuat dari beberapa tali tampar kecil sekitar 5 buah yang salah satu ujung-ujungnya dijadikan satu pada sebuah pegangan dari rotan. Entah untuk apa alat ini biasanya digunakan Aguk, pikirku, tapi peduli apa, yang penting sekarang benda ini ada gunanya.

“Jangan.. ampunn Mas..” pinta Vera, melihat aku mengibas-ngibaskan pecut itu. Aku tersenyum sadis, lalu tanganku kuangkat dan sebuah pecutan kuarahkan ke payudaranya. “Ctass..” Tubuh Vera menggelinjang, dan buah dadanya langsung bergoyang ke kanan ke kiri menahan sakit. “Aduhh..” teriaknya sambil menitikkan air mata. Beberapa garis merah terlihat di kedua buah dadanya, di sekitar puting. Cerita Sex 21+

“Lagi?” tanyaku kepada Vera, yang tentu saja dijawab dengan gelengan kepala, “Ampunn.. ampunn tolongg..” rintihan bercampur tangis Vera menjadi satu. Tanpa rasa iba pecut kuayun lagi, kali ini sasarannya adalah pahanya. “Mmmpphh..” Vera menggigit bibir bawahnya menahan sakit. Sekali lagi kuayun pecut itu, sekarang ke arah pusar, garis-garis merah segera menghiasi tubuh Vera. Entah aku sangat menikmatinya sehingga tak terasa sudah beberapa ayunan pecut mengarah ke tubuh Vera. Tubuhnya terlihat bergetar, menggelinjang menahan sakit dan perih. Wajahnya yang basah oleh air mata dan keringat sudah benar-benar menunjukkan penderitaan. Tapi aku masih belum puas. Kulihat teman-temanku, ketiganya tersenyum seakan memberikan dukungan kepadaku untuk terus menyalurkan hasratku.

Kudekati telinga Vera, dia yang sudah ketakutan padaku, dia berusaha menjauhkan kepalanya, mungkin dikiranya aku mau menggigit telinganya. Kubisikkan sesuatu di telinga Vera, “Vera, gimana kalau kita ganti alatnya, sekarang pakai ikat pinggang saja ya”, bisikku sambil menyeringai sadis. Vera menunjukkan ekspresi terkejut setengah tidak percaya bahwa dia akan menerima siksaan yang lebih hebat. “Ampun.. lepaskan saya..” ibanya meskipun tahu aku tidak akan melepaskannya.

Kubuka ikat pinggangku yang terbuat dari kulit, kulilitkan sebagian pada telapak tanganku, Vera melirikku dengan ketakutan yang amat sangat, nafasnya tersenggal-senggal meskipun dia sudah berusaha sekuat tenaga untuk mengaturnya. Mungkin dengan mengatur napas dia berharap sabetan ikat pinggangku tidak akan terlalu sakit. Kuangkat tinggi tanganku dan kuayunkan dengan keras, Vera memejamkan matanya, saat ikat pinggangku mendarat di pahanya terdengar meja yang ditiduri Vera agak berderit karena tubuh Vera secara spontan bergetar keras menahan sakit. “Ahh.. ampun.. ampun.. hahh.. hahh..” Vera berkata tersendat-sendat. Kali ini bukan hanya garis merah yang tampak, tetapi semacam jalur merah tercetak di paha Vera.

“Ceplass.. Ceplass..” sabetan ikat pinggangku semakin liar menghujani tubuh Vera. Vera sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi, dia hanya menggeleng ke kiri ke kanan menahan penderitaan yang kuberikan. Puas dari samping, “Bagaimana kalau pukulan yang mengarah langsung ke liang kewanitaannya?” pikirku. Lalu aku mulai menyobek CD-nya dan minta kepada dua temanku untuk melepaskan ikatan kaki Vera dan mengikatnya kembali pada posisi menekuk ke atas dan mengangkang, sehingga liang kewanitaannya terbuka lebar. Vera berusaha meronta dan menutup liang kewanitaannya dengan kakinya, namun ikatan kami cukup erat sehingga kedua kakinya tidak bisa mengatup. Persis menghadap liang kewanitaannya, aku mengelus-elusnya sambil tersenyum sinis. Vera mengangkat kepalanya dan menatapku dengan pandangan nanar.

– Aku mulai menjauh, ikat pinggang mulai kuputar-putar, lalu.., “Ceplass..” ikat pinggang itu mendarat dengan tepat di bibir liang kewanitaan Vera. Kali ini Vera meronta-ronta dengan sangat dan cukup lama, tampaknya dia sangat kesakitan, kepalanya ditengadahkan ke atas sembari mengguncang-guncangkan pantatnya di atas meja. Aku berjalan ke sampingnya, “Lagi?” tanyaku seolah tak menghiraukan penderitaannya. Vera tidak mengatakan apa-apa, kelihatannya dia sudah pasrah. Aku tersenyum penuh kemenangan, kusentuh bibir liang kewanitaannya yang tentunya masih pedih, Vera menggelinjang, tak peduli kugesek-gesekan jariku di liang senggamanya, tubuh Vera terus menggelinjang. “Sakitt.. sakitt..” gumamnya lirih.

Seolah tak peduli, kembali aku mengambil dua jepitan, dan kujepit di kedua bibir liang kewanitaan yang memerah itu. Vera menatapku dengan pandangan tak percaya akan kesadisanku. “Oke”, kataku, “Tidak ada lagi pukulan..”, Vera diam saja tanpa ekspresi, “..tapi sekarang waktunya bermain lilin”, lanjutku sambil menyunggingkan senyum. Kali ini Vera menolehkan wajahnya yang layu, berkeringat dan basah karena air matanya. Bisa kubaca dalam pikirannya, “Oh.. apa lagi yang akan diperbuatnya pada tubuhku.. malangnya nasibku..”

Memang di kamar Aguk ada beberapa lilin untuk jaga-jaga jika lampu mati, ada yang kecil dan ada juga yang besar supaya awet. Kuambil Zippo-ku, kunyalakan satu lilin yang kecil. Lidah api menari berputar-putar melelehkan batang lilin yang menahannya. Menembus lidah api itu, kulihat pandangan Vera yang berharap aku hanya bercanda. Kujawab dengan pandangan juga yang menyatakan bahwa aku serius. Segera lilin yang kupegang kumiringkan di atas payudara Vera. Kulihat ekspresi Vera yang memandang lekat batang lilin yang terkena nyala api, pandangannya seolah berharap agar lilin tersebut tidak meleleh atau apinya tiba-tiba mati. Tapi tentu saja itu tidak terjadi, yang terjadi adalah tetesan pertama jatuh dan menetes di atas puting susu Vera sebelah kanan.

“Hhh..” Vera mendesah, punggungnya terlihat bergerak ke atas menahan panas lilin yang meleleh. Tetesan demi tetesan bergerak jatuh, dan Vera terlihat semakin kesakitan karena tetesan tersebut jatuh di tempat bekas pecut dan sabetan ikat pinggangku tadi. Tiba-tiba teman-temanku ikut bergabung, mereka semua memegang lilin bahkan tidak hanya satu tapi tiga atau empat sekaligus. Mereka dengan gembira meneteskan ke bagian-bagian sensitif Vera, seperti buah dada, pusar, sekitar liang kewanitaan dan paha. Kali ini Vera seperti ular kepanasan, dia meliuk-liukkan tubuhnya menahan panas tetesan lilin.

Seperti biasa, setelah puas pada bagian tubuh Vera, aku pun mengambil sebuah lilin dengan diameter yang besar dan menyalakannya. Setelah menunggu agak lama supaya lelehan lilin cukup banyak di atas lilin itu, aku kembali mengelus-elus liang kewanitaan Vera. Vera langsung berkata, “Tidakk.. jangan.. jangan Mas..”, aku pun tersenyum penuh nafsu mendengar nada yang memelas itu. Tapi tetap saja lilin yang besar itu kumiringkan di atas liang kewanitaan Vera, Vera berusaha mengelak dengan menggeser pantatnya, “Pintar juga dia”, pikirku, tapi karena lelehan lilin ini masih banyak, dengan leluasa aku “menaburkan” tetesan-tetesannya ke liang kewanitaannya. Tak ayal bagaikan lahar panas tetesan tersebut mengalir ke liang kewanitaan Vera dan mungkin ke dalamnya.

“Errgghh..” gumam Vera, dia langsung menggoyang-goyangkan pantatnya dan menengadahkan kepalanya menahan panas dan sakit, dengan mulutnya yang menggigit rapat dan matanya terpejam erat. Kemudian kucoba untuk memasukkan sebuah lilin kecil ke anusnya, sulit sekali karena anusnya begitu rapat, aku memasukkan jariku terlebih dahulu dan menggesek-geseknya agar anusnya membesar. “Aduh.. aduh..” ucap Vera, tapi aku tidak peduli, setelah anusnya membesar mulai kutancapkan sebuah lilin di anusnya. Dan ide cemerlangku muncul lagi, kunyalakan lilin yang menancap itu dan setelah cukup lama, kutiup apinya dan kubalik, jadi yang menancap adalah bagian yang barusan menyala. “Jess..” bunyi panas lilin bercampur dengan cairan yang keluar dari anus Vera. Tentu saja Vera menggeliat kesakitan, pantatnya dibentur-benturkannya ke meja seakan ingin melepaskan lilin yang menancap di anusnya. Aku tersenyum senang sambil kumasuk-keluarkan lilin tadi di anus Vera.

Karena sudah puas menyiksa Vera, aku kasih kesempatan kepada teman-temanku untuk menyetubuhinya. Teman-temanku begitu gembira, mereka langsung beraksi, sementara aku melihat pertunjukkan ini dengan kepuasan total. Mereka melepas ikatan Vera yang sudah tidak berdaya itu, lalu tubuhnya dibalik dan pantatnya ditarik ke atas sehingga dalam posisi menungging. Aku melihat Vera diam saja, mungkin dia sudah capai dan pasrah serta tidak punya harapan hidup lagi. Wajahnya yang cantik terlihat sangat lesu dan seolah-olah siap diperlakukan apa saja. Dodot dengan tubuhnya yang besar mulai membuka celana dan melakukan penetrasi, langsung sodomi. Vera membelalak tak menyangka bahwa ada benda sebesar itu yang harus masuk ke anusnya. Belum selesai dia “menikmati” penderitaan karena ulah Dodot, Aguk langsung menyelinap ke bawah tubuh Vera dan berusaha memasukkan batang kemaluannya ke liang kewanitaan Vera.

Vera melolong kesakitan karena anus dan liang kewanitaannya yang sudah lecet dan perih terkena sabetan ikat pinggang dan tetesan lilin, masih harus bergesekan dengan batang kemaluan teman-temanku. Tubuhnya terguncang ke depan berulang-ulang setiap kali Dodot dan Aguk menghunjamkan batang kemaluannya. Payudaranya berguncang keras persis di atas wajah Aguk yang dengan penuh nafsu meremas sekuatnya. Masih tersiksa dengan keadaan begitu, Bimo mengeluarkan kepunyaannya dan minta dikaraoke oleh Vera. Rintihan Vera menjadi tersendat-sendat karena tersedak dan batuk, Bimo bukannya kasihan malahan dia semakin terangsang sehingga dia menghunjamkan batang kemaluannya ke mulut dan tenggorokan Vera berulang-ulang.

Aku tersenyum saja melihat kelakuan teman-temanku yang brutal, lalu kudekati Vera sambil berkata, “Vera.. punggungmu masih mulus lho.. aku cambuk ya..” Karena tidak mungkin menggunakan pecut dan ikat pinggang sebab bisa mengenai Aguk yang berada di bawah tubuh Vera, maka aku menggunakan rotan yang tadi sebagai pegangan untuk pecut, rotan ini ujungnya memecah sehingga sangat cocok untuk menimbulkan rasa sakit.

Segera kuraih rotan itu dan kupukulkan berulang-ulang ke punggung Vera. Tubuh Vera terlihat menggelinjang dan menggeliat seiring dengan hujaman-hujaman yang diberikan oleh Dodot, Aguk dan Bimo serta siksaan cambukan rotan dariku. Dodot yang melihat punggung Vera terkena pukulan rotanku sangat terangsang dan segera memuntahkan maninya ke liang dubur Vera, lalu dia pun mencabut batang kemaluannya. Karena pantatnya kosong, atau tidak ada orang, aku pun dengan leluasa memukul pantatnya dengan rotan. Kulihat Vera sangat menderita, pantat yang baru saja dimasuki paksa oleh Dodot masih harus menerima siksaan rotanku.

Giliran Bimo yang ejakulasi, maninya langsung menyemprot ke tenggorokan Vera, membuatnya menjadi sulit bernafas dan seperti mau muntah. Melihat begitu semakin keras kupukulkan rotan ke pantatnya, bahkan ke belahan pantatnya. Tiba-tiba Vera lunglai, kelihatannya dia tak tahan lagi menerima siksaan kami, dia pingsan. Aguk yang belum selesai masih terus melakukan aksinya, sehingga tubuh Vera yang pingsan itu terguncang-guncang ke sana ke mari, akhirnya Aguk pun mencapai puncaknya dan menyemprotkan air maninya di dalam liang kewanitaan Vera yang masih pingsan. Aku sendiri sudah merasa puas dengan balas dendamku ini. Kami berempat tertawa dan puas.

Kami lalu membawa tubuh Vera untuk di”buang”, sebetulnya kami ingin menyimpannya untuk kenikmatan sehari-hari tetapi terlalu beresiko. Akhirnya tubuh Vera kami lempar di depan plaza tempat dia bekerja. Aku tersenyum puas karena sudah memberi pelajaran kepada SPG yang sombong itu, tapi dalam hati aku merasa ketagihan untuk menyiksa SPG yang lain, kusampaikan ini ke teman-temanku dan mereka semuanya setuju untuk suatu waktu menculik dan menyiksa SPG yang lain.,,,,,,,,,,,

STORY21 - PEMBANTUKU YANG BERUNTUNG

Pembantuku yang Beruntung - Kisah ini terjadi saat aku dan suamiku pindah ke suatu daerah di Sumatera Selatan. Sebagai pengusaha yang sukses, suamiku membuka sebuah perkebunan di daerah itu. Sedang kedua anak kami kutitipkan di tempat neneknya di Padang.

Di kota ini aku tinggal dan sengaja ikut suami. Sebagai pengusaha, ia ingin kudampingi sehingga tidak merepotkannya untuk pulang pergi ke Padang menemuiku. Anakku yang pertama berumur 6 tahun dan yang kedua berumur 5 tahun. Sekali sebulan aku pulang menemui kedua anakku. Di rumahku kini aku tinggal dengan dua orang pembantu. Yang satu perempuan, sementara satunya lagi seorang laki-laki yang bertugas menjaga rumah sekaligus membersihkan mobil dan taman di rumahku ini.


Laki-laki itu namanya Oding. Ia dipekerjakan oleh suamiku karena di daerahku ini amat sering terjadi perampokan. Masyarakatnya pun masih terbelakang. Pak Oding sangat disegani oleh masyarakat desa ini. Umurnya 52 tahun. Badannya sangat kekar. Hanya kakinya yang pincang sebelah akibat berkelahi dengan perampok beberapa tahun yang lalu. Para perampok itu berhasil dikalahkannya. Hanya saja satu kakinya pun menderita kelumpuhan akibat bacokan. Cerita Sex 21+

Setiap minggu, suamiku pergi ke perkebunan selama 1-2 hari dan bermalam di base campnya. jadi aku terpaksa tinggal sendirian di rumah ini bersama kedua pembantuku. Letak rumahku di desa ini jauh dari pemukiman penduduk lainnya. Tidak heran jika malam hari amat sepi dari kebisingan.

Saat ini umurku menginjak 29 tahun dan suamiku 31 tahun. Kami dulunya kuliah bersama-sama. Suamiku memilih jadi pengusaha dan aku disarankannya menjadi ibu rumah tangga, karena segala kebutuhan hidupku telah tercukupi olehnya. Suamiku amat pengertian dan mencintaiku. Hampir dua kali seminggu kami selalu melakukan hubungan suami istri yang sering membuatku puas dan orgasme. Ini membuatku tambah mencintainya. Meskipun telah memiliki dua orang anak namun kami tetap mesra dan hangat.

Suatu saat suamiku sedang ke Jakarta untuk beberapa hari. Terpaksalah aku tinggal dan ditemani kedua pembantuku. Saat itu aku merasakan ada yang lain pada diri pembantuku yang laki-laki. Pak Oding sering mencuri pandang terhadapku. Sebagai majikannya, aku anggap bisa saja namun lama-kelamaan aku merasa jengah juga.

Aku maklum, sebab sebagai laki-laki normal, Pak Oding tentu juga memiliki nafsu dan keinginan, namun aku tidak mungkin berselingkuh dengan pembantuku. Aku tidak mau mengkhianati suamiku.
Suatu saat, ketika aku mau ke pasar dengan menyetir mobilku, Pak Oding mencuri pandang ke arah dadaku, yang saat itu agak rendah belahannya. Bulu kudukku agak merinding melihat matanya yang melotot memandang dadaku.


Suamiku, karena kesibukannya, kini jarang sekali memberiku nafkah batin. Sebagai wanita normal, aku sebetulnya menginginkannya. Pada malam hari, suamiku mulai selalu pulang dalam keadaan capai dan terburu-buru.

Suatu hari, suamiku kembali ke perkebunan. Diperlukan waktu 4 jam untuk pergi ke sana. Hari itu cuaca hujan disertai guntur, namun suamiku tetap pergi karena ada yang perlu ia atur dengan para petani di perkebunan.

Malam itu, aku tidur sendiri di kamarku yang cukup luas. Aku tak bisa tidur. Gairahku menghentak-hentak. Aku menjadi pusing dan mencoba keluar kamar untuk minum, dengan harapan akan dapat menurunkan gairahku.

Di ruang belakang, aku mendengar suara televisi hidup. Aku pun pergi ke situ. Rupanya Pak Oding belum tidur dan masih nonton. Sedangkan pembantuku yang wanita tadi siang pulang ke kampungnya karena ada keperluan. Jadi di rumah itu sekarang yang ada hanya aku dan Pak Oding.


Lalu kusapa dia, “Oooo, Pak Oding belum tidur ya?”
“Belum, Bu… Acaranya bagus, nih,” katanya lagi, sambil tiduran di lantai.
Lalu aku ikut duduk juga di lantai yang beralaskan permadani itu untuk nonton. Saat itu aku mengenakan kimono tidur.
“Bu, Bapak pulangnya kapan? Udah malam kok belum juga pulang?” kata Pak Oding.
“Besok, Pak,” kataku, “Ada urusan penting di perkebunan.”
“Oooo…” Hanya itu yang keluar dari mulutnya.
Lalu ia berkata, “Kasian juga Ibu tinggal sendirian. Malam lagi… Apa ndak takut, Bu?”
“Oooo….. Nggak lah, Pak… Kan ada Bapak…. yang menjaga,” jawabku.
Dueeeerrrrrrrrrrrr!!!!!!… Terdengar bunyi petir yang diiringi hujan dan angin badai. Aku agak takut juga, namun tidak kuperlihatkan. Terbayang olehku kalau-kalau Oding memperkosaku saat ini.. Ihhhh ngeri, pikirku. Lalu aku beranjak ke kamarku…
“Kemana, Bu?” Tanya pak Oding.

“Saya tidur dulu…” Jawabku.
“Awas lho, Bu… Ada hantunya…!” katanya.
“Husyyyyy… Bapak ini koq nakutin saya?” kataku.
“Bukan begitu, Bu. Kan Ibu dengar sendiri bunyi itu,” katanya lagi.
Aku diam dan coba mendengarkannya… Memang ada suara gemerisik, namun tak jelas apakah karena hujan atau bukan. Aku merasa takut dan minta Pak Oding menemaniku…
“Pak… tidur di kamarku aja.. tapi dilantainya ya?” kataku.
“Baiklah, Bu….” Jawabnya sambil berdiri dan mematikan televisi. Pak Oding berjalan tertatih-tatih, karena kakinya memang pincang. Ia pun masuk kekamarku dan aku berikan sebuah bantal kepadanya. Aku tidur diatas ranjang yang besar dan kosong.
Mataku tak mau terpejam. Oding pun aku lihat belum tidur. Lalu kami bercerita tentang berbagai hal, mulai dari pekerjaanya sampai ke keluarganya di kampung.

“Bu… malam ini apa nggak kedinginan,” tanyanya.
Aku pikir ini pertanyaan yang kurang ajar dari seorang pembantu kepada majikannya.
“Nggak,” kataku singkat.
“Pak Oding Gimana? Mau selimut?” tawarku.
“Tidak usah, Bu,” tolaknya.
Aku turun dari ranjangku dan duduk di lantai dekat Oding.
“Mataku tak mau tidur, Pak”
“Masih takut, Bu?” tanyanya sambil duduk juga dekatku.
Lalu tangannya melingkar di bahuku. Aku kaget dan menepiskannya.
“Jangan, Pak. Saya kan istri Bapak, majikan kamu?” kataku.
“Maaf, Bu,” katanya lagi sambil menjauhkan dirinya dariku.
Namun entah kenapa di malam yang dingin dan suasana yang redup itu, tanpa kusadari, aku akhirnya pasrah dalam pelukan Pak Oding yang adalah pembantuku.


Aku tahu ia sudah lama berminat pada diriku. Aku yang sedang dilanda kesepian akhirnya tergoda juga untuk berhubungan intim dengan Pak Oding. Apalagi suasana saat itu sangat mendukung.
Beberapa saat setelah kutolak, malah aku yang lalu merapatkan tubuhku ke tubuhnya. Saat itu Pak Oding agak kaget namun ia dengan cepat dapat menangkapnya. Ia pun kembali melingkarkan tangannya di bahuku. Kali ini aku tak menolak. Beberapa waktu kemudian, kurebahkan kepalaku di bahunya yang bidang.


Tampak jelas bahwa Pak Oding sangat senang mendapatkan kenyataan itu. Tanpa perlu mengucapkan sepatah kata pun, ia langsung mengerti lampu hijau yang kuisyaratkan padanya. Tangannya pun lalu mulai berani bergerilya ke sekujur tubuhku yang dibalut kimono sutra. Akhirnya aku tak bisa berbuat apa-apa untuk menolaknya saat ia lepaskan satu per satu kimono tidurku hingga aku tak berpakaian sehelai benang pun.

Di malam itu aku pasrahkan setiap rongga tubuhku yang putih mulus ini untuk dicumbui pembantuku yang sudah tua ini. Malam itu pun aku terima keperkasaan permainan yang disuguhkan Pak Oding kepada tubuhku. Dengan sukarela, malam itu aku disenggamai oleh Oding. Aku pun menikmati setiap hentakan kelamin Pak Oding yang bergerak-gerak di dalam kemaluanku.
Buah dadaku pun tidak luput dari jamahan tangan kasarnya. Malam yang dingin itu, membuat kami bersama-sama sampai di pendakian birahi. Tubuhku dan tubuh pak Oding sama-sama basah oleh keringat dan saling bercampur.

Aku tidak berpikir tentang kekayaan dan wajah laki-laki yang menggauliku malam itu. Yang aku pikirkan adalah kepuasan ragawi yang diberikan pembantuku. Meskipun kakinya cacat namun ia amat perkasa mengaduk-aduk vaginaku.
Ada juga terbersit rasa penyesalan di dadaku karena telah mengkhianati suamiku dan menyeleweng dengan pembantuku yang sudah tua ini. Sampai menjelang pagi Pak Oding tidak henti-hentinya terus mengaduk-aduk kemaluanku dengan penisnya yang panjang dan besar.

Semenjak kejadian itu, aku jadi terperangkap oleh permainan seks yang diberikan Pak Oding. Dengan suatu kode saja, ia akan tahu arti dan keinginanku. Di ranjang yang biasanya aku tiduri dengan suamiku ini, aku serahkan kehormatanku sebagai istri kepada Pak Oding bulat-bulat. Sampai saat ini aku masih selalu menjalaninya bersama dengan Oding saat suamiku ke Jakarta atau ke perkebunan.,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,
TAMAT 

STORY21 - MAHASISWI DIPERKOSA DI TOILET MALL

Mahasiswi Diperkosa Di Toilet Mall - Seorang Mahasiswi yang masih Virgin diperkosa preman Di toilet Mall, akibat tidak mau memberikan uang receh kepada preman yang meminta uang didalam metromini . Ingin Tahu kelanjutanya para pembaca ??? langsung saja simak cerita dibawah ini !!!

Pada hari siang itu seperti biasa udara di Jakarta sungguh panas sekali. Terlihat sebuah metromini kumuh angkutan antar kota khas kota jakarta yang masih menunggu para penumpangnya di depan sebuah gedung di daerah Jakarta utara. Terlihat sekali para penumpang yang sudah ada didalam metromini merasa bosan dan kesal kaerena kepanasan.

Namun harus bagaimana lagi, supir metromini yang mempunyai keluarga juga harus mencari penumpang lebih banyak agar cukup untuk menghidupi keluarganya dirumah. Tidak ada kata lain selain harus bersabar untuk para penumpang penumpang. Bebrapa waktu metrominipun dimasuki oleh seorang pria yang berpakain lumayan rapi yang nampaknya preman daerah situ.

Panggil saja namanya Arnold, dengan wajah memerah dan nafsasnya yang berbau minuman kerasa, mulailah dia beraksi untuk meminta sumbangan pada para penumpang,

“ Selamat siang bapak,ibu,mas,dan mbak, saya disini mau meminta sumbangan, saya tidak meminta uang lembaran, namun hanya meminta recehan saja, ” ucapnya dengan mulut yang berbau minuman.

Setealah berkata seperti itu, Arnold-pun segera mengambil sebuah plastic bekas bungkus permen lalu mulai berjalan menujuke para penumpang dari belakang untuk menadahkan kantong plastiknya agar para penumpang memeberi uang recehan kepadanya. Memang sih preman itu tidak memaksa, terbukti para penumpang sebagian ada yang memberi da nada juga yang tidak.

Sampai pada akhirnya dia sampai ke tempat duduk seorang mahasiswi yang sedak asik bermain dengan smartphoneya, nampaknya mahasiwi itu tidak sadar kalau Arnold sudah di depannya dan menadahkan tangan untuk meminta uang receh kepada mahasiwi itu,

“ Ehemmm… jangan maen handphone mulu, amal dong minta recehnya dong Mbak, !!!, ” ucapnya dengan nada santai sembari mencolek lengan mahasiswi itu. 

Arnold mencolek mahasiwi itu agar dia menyadari bahwa dia meminta recehan pada pada mahasiwi itu,

“ Apaan sih nyolek-nyolek segala, nggak ada nggak ada, gue nggak ada receh , ” kata mahasiswi itu denganb juteknya.

Panggil saja nama mahasiswi itu sebut saja Resty. Resti yang merasa risi dengan preman itu kemudian diapun bergegas berdiri lalu pindah duduk ke bangku depan dekat supir metomini. Melihat sikap Resty yang seperti itu Arnold-pun kesal, matanya melotot dan dalam hatinya berkata,

“ Sialan gue dicuekin sama anak bau kencur, awas lo nanti,”.

Arnold yang befitu kesal saat dia sudah selesai memintarecehan kesemua penumpang dia tidak langsung turun dari metromini, Arnold saat itu tetap didalam metromini namun dia duduk dibangku belakang. Bebrapa saat metromini-pun berjalan, Arnold yang berada di bangku paling belakang terus mengawasi Resty yang ada didepan, hal itu tida disadari oleh Resty.

Metromini terus berjalan lagi, sampai pada akhirnya metrominipun berhenti didepan sebuah Mall untuk mencari penumpang lagi. Sebagian Penumpang-pun ada yang turun Di mall itu begitu pula Resty. Melihat Resty yang turun Ddi Mall itu, dari kejauhan dia membuntuti Resty tanpa sepengetahuan Resty.

Dia terus membuntuti Resty yang sedang berbelanja keluar-masuk beberapa outlet yang ada didalam Mall. Arnol terus memperhatikan membuntuti Resty dari kejauhan dengan rasa kesal dan penuh dendam. Sampai pada saatnya Resty-pun menuju kesebuah toilet yang letaknya berada dipojok gedung, dan kebetulan saat itu suasana toilet sedang sepi sekali.

Melihat hal itu Arnold-pun mengikuti resty ke Toilet sembari berkata,

“ Mampus Loe, bakal gue perkosa lu didalem toilet itu, ” ucapnya pelan sembari membuntuti Resty.

Nampaknya saat itu Resty tidak sadar sedari tadi terus dibuntuti oleh Arnold. Denganpenuh dendam Arnold-pun melihat sekeliling, apakah aman atau tidak. Setelah beberapasaat memeperhatikan, dia memastikan bahwa akanaman jika dia mencabuli Resty di toilet nanti. Sat itu resty-pun segera masuk kedalam Toilet, setelah memastikan Di toilet itu tidak ada penjaga Arnoldpun menyusul Resty.

Bisa dibayangkan para pembaca, toilet Mall pasti hanya ada satu pintu masuk dandidalamnya ada beberapa toilet. Sebelum masuk kedalam toilet Arnold meliha sebuah kursi yang ada didepan pintu masuk toilet. Melihat hal itu Arnold-pun membawa kursi itu masuk ke toilet dan menganjal pintu masuk dengan kursi dari dalam Toilet.

Dia melakukan hal itu dengan maksud agar tidak ada orang yang bisa masuk ketoilet selain mereka berdua. Arnold kemudian bersembunyi kedalam kamar toilet yang kosong sembari menunggu Resty selesai buang air kecil. Beberapa saat Arnold menunggu, tselang beberapa menit terdengar pintu toiet yang dimasuki resty terbuka,

“ Ceklek…., ” suara kancing pintu terbuka.

Mendengar hal itu arnol-pun mulai mengintip dia dari dalam toilet dengan memanjat closet duduk. Saat itu dia melihat Resty sudah keluar dan saaat itu dia melihat resty sedang merapikkan rok-nya di depan kaca yang dekat wastafel toilet,
“ Ini dia saatnya, mampus loe, bakal nangis darah loe hari ini, ” ucapnya dalam hati.

Melihat kesempatan itu, dengan cepatnya Arnold keluar dari kamar toiletnya lalu berlari ke arah Resty. Dari belakang dengan cepatnya Arnold mengalungkan tanganya keleher resty, lalu resty dibantin hingga jatuh kelantai toilet. Resty yang tidak mengetahui kehadiran Arnold saat itu dia sungguh shock dan kesakitan karena di terbanting kelantai toilet.

Saat itu Resty yang ketakutan mencoba berdiri, namun dengan gesitnya Arnold-pun memukul perut dan tengkuk Resty dengan kencangnya,

“ Bugggg… Bugggg…, ” suara pukulan Arnold.

“ Aow.. Aduh… sakit bang… ampun Bang…. Aow…, ” ucapnya kesakitan karena pukulan Arnold yang kuat itu.

“ Udah diem Loe, jangan banyak bacot, !!! awas kalau sampai loe teriak bakal gue bunuh loe disini, ” ucapnya mengancam Resty.

“ Iya Bang, Ampun Bang, maafin saya Bang… Saya bakal kasih uang berapapun asalkan Abang melepaslkan saya, ” ucapnya ketakutan sembari terduduk dilantai dan memegangi perutnya yang kesakitan.

“ Arggghhhh… udah diem loe, gue nggak butuh duit loe, ” ucapnya dengan nada kesal dan penuh dendam.

Bisa dibayangkan seorang wanita mungil, bertubuh sintal seperti Resty dipukul oleh Arnold yang tinggi dan badanya lumayan kekar, pasti dia tidak akan berkutik. Arnold yang sudah dibutakan dengan rasa dendam dia lalu menariknya keluar kearah toilet wanita dan masuk kearah ke Toilrt Pria. Setelah mereka berdua berada didalam toilet Pria Arnold-pun kembali mengganjal pintu.

Saat itu benar-benar sepi suasana toilet Mall itu, tanpa rasa Khawatir Arnold segera-pun meminta Resty untuk melepas seluruh pakaianya,

“ Sekarang Loe lepas pakaian loe, asal loe nurut gue nggak bakal bunuh Loe, ” ucapnya mengancam.

Karena melihat suasana yang sepi itu Resty berfikir hari itu tidak akan ada yang menolongnya, dia sungguh ketakutan luar biasa. Dalam hatinya berkata, kalau aku tidak menurutinya pasti dia akan benar-benar membunuhku. Lalu,

“ Iya bang…Huwww… , ” ucapnnya dengan menangis ketakutan.

Dengan terpaksa saat itu dia-pun segera meletakan tasnya lalu segera melepas semua pakaianya, hingga dia hanya memakai BH dan celana dalam saja. Arnold namapnya tidak puas dengan Itu,

“ Woy itu BH sama Cd juga dilepas, ” ucapnya meminta agar Resty telanjang bulat.

Tanpa bisa melawan dan berkata apa-pun Resty-pun menuruti keinginan Arnold dengan terus menangis tersendu-sendu. Ditengah Resty sedang melepas BH dan celana dalamnya Arnold mengeledah tas Resty, tidak disangka ditas Resty ada semacam kain panjang berwarna hitam. Karena menemukan itu Arnold mempunyai ide untuk mengikat tangan Resty,

“ Krekkkkkkkkkkkk…, ” suara kain yang terobek menjadi 2 bagian.

“ Nah gitu dong kalau nurut kan enak, ” ucapnya kegirangan.

Resty saat itu hanya bisa diam dan menutupi payudara yang montok dan kewanitaannnya dengan kedua tanganya. Rasa kesal Arnold yang menggebu gebu tadi, seketika berubah menjadi hawa nafsu setelah melihat keindahan tubuh Resty,

“ Wah… montok banget yah buah dada Loe, enak tuh kalau dikenyot, hahahah… Apalagi memek loe itu, beuhhh pasti nikmat banget yah kalau gue masukin kontol gue ini, ” ucapnya girang penuh nafsu birahi.

“ Tolong bang jangan perkosa aku, aku masih perawan bang, hu…uuu…uu.., ” ucapnya memohon ampun sembari menangis.

“ Ah banyak bacot Loe, awas kalau loe sampai ngelawan, gue bunuh Loe, ” ucapnya mengancam.

Mendengar ancaman Arnold Resty-pun sudah tidak berani melawan ataypun berkata sepatah kata-pun kepada Arnold. Setealh itu Arnoldpun segera mengikat kedua tangan Resty dengan kain yang dirobeknya. Kedua tangan Resty dibentangkanya lalu diikatkan pada tempat kencing untuk laki-laki. Setelah diikat kedua tangnya, Arnold-pun segera membuka resleting celananya,

“ Sekarang loe hisap nih kontol Gue, inget jangan sampai kena gigi Loe, ” ucapnya sembari memegang kejantananya dan mengarahkan ke mulut Resty.

Resty yang hanya bisa pasrah sat itu hanya bisa menuruti saja. Posisi Resty saat itu berada disela tempat kencing pria semabri jongkok dan tangan terikat. Dengan penuh rasa ragu resty membuka lebar-leabr mulutnya. Melihat ,ulut Resty sudah Terbuka Arnold-pun segera memasukan kejantanan-nya kedalam Resty,

“ Hisap pelan-pelan kontol Gue yah, nanti lama-lama loe juga mahir sendiri, ” ucapnya sembari memajumudurkan penisnya didalam mulut Resty.

Dengan perlahan Resty-pun mulai mengkulum penis Arnold. Dikulumnya secara perlahan agar tidak terkena gigi-nya,

“ Oughhhh… nah gitu ngisepnya… jago juga ternyata Loe yah, Sssssshhh… Aghhhh…, ” ucap nikmat Arnold.

Saat itu Resty hanya bisa menagis saja sembari terus mengkulum penis Arnold. Arnold sering mendesah nikmat saat kejantananya dikulum oleh Resty. Melihat payudara Resty yang montok dan kencang Arnold-pun tidak mau menyia-nyiakanya. Dengan sedikit membungkuk dia mulai meremas remas payudara Resty,

“ Eughhh… Ssshhhhh…, ” desah resty tertahan karena mulutnya dipenuhi kontol Arnold.

Nampaknya Resty juga merasa nikmat dengan remasan Arnold pada payudaranya. Sembari terus memaju mundurkan penisnya didalam Mulut Resty Arnold terus meremas dan sesekali dia memelintir putting Resty,

“ Ughhhhh… Sssssshhhh… Eummm…, ” desah Resty sembari terus mengkulum penis Arnold.

“ Hha, namapaknya loe udah mulai nikmati permainan sex kita, bagus deh kalau gitu, ” ucapnya senang melihat Resty yang mulai menikmati permainan sex mereka.

Tubuh Resty mengelincang, dia mengerakan pinggangnya kekanan dan kekri sembari terus mengkulum. Merasakan rangsangan yang diberikan Arnold Resty-pun mulai menggila, tanpa harus dikomado lagi Resty mengkulum penis Arnold dengan lihaynya,

“ Oughhh… Ahhhh… enak banget kuluman loe, terus kulum kayak gtu… Aghhhh…, ” ucap Arnold puas dengan sepongan Resty yang mulai mahir.

Beberapa saat merekamelakukan hal seperti itu. Bosan dengan kulumn Resty Arnold-pun segera mencabut penisnya dari mulut resty. Kemudian dengan cepatnya dia berjongkok didepan Resty. Jadi posisi mereka saat itu jongkok dan berhadap-hadapan. Melihat Memek resty yang meerah merekah dengan seidikit bulu kewanitaan, Arnold-pun memainkan jarinya pada bibir vagina resty,

“ Oughhhh… Bang… Ssssshhhh… Eughhhh…, ” desah Resty.

Namkmpanya Resty mulai merasa nimat dengan perlakuan cabul Arnold, seakan dia lupa bahwa saat itu diasedang diperkosa. Arnold terus memainkan Vagina Resty, dia memainkan klitoris Resy hingga basah dengan lendir kawinya. Mengingat perkataan Resty katanya dia masih perawan, dia-pun mulai mencoba memasukan jarinya keliang vagina resty,

“ Sluppppp… Aowww…. Sakit bang… Shhhhhhhhh…, ” ucap Resty kesakitan.

“ Wah kamu benar-benar perawan yah, beruntung sekali aku dapet perawan seperti kamu…, ” ucapnya puas. Cerita Sex 21+

Setelah memasukan jarinya kedalam liang senggama Resty Arnold mencabut kenali jarinya. Dalm hatinya berkata, Rugi nih kalau keperawan cewek ini aku hilangkandengan jariku. Lalu Arnold-pun segera melepas ikatan tali Resty,

“ Sekarang kamu tiduran dilantai, tuh pakaian kamu buwat alas, ” ucap Arnold.

Tanpa menjawab Resty-pun mengikuti permintaan Arnold. Dia segera mengambil pakainya untuk alas dan segera merebahkan tubuhnya dilantai. Tanpa banyak berfikir Arnold yang sudah bernafsu kemudain segera membuka celana beserta celana dalamnya, lalu dia membuka lebar-lebar paha Resty kemudian memposisikan tubuhnya disela paha Resty.

Resty hanya menurut saja dengan kemauan Arnold, entah dia sudah mulai menikmati atau dia menuruti karena ketakutan. Dengan penuh birahi Arnold mulai mengesek-gesekan penis-nya pada bibir vagina Resty yang sudah basah dan dia juga menciumi leher sampai berkahir pada payudara Resty,

“ Oughhh…. Bang… Shhhhh… geli bang… Ahhhhh… Uhhhhh…, ” racau Resty nampak menikmati perlakuan cabul Arnold.

Arnold-pun terus menjilati hampir semua utubuh Resty. Mahasiwi mungil bertubuh pada itu meliak liukan tubuhnya karena kegelian dengan jilatan dan gesekan penis Arnold pada kewanitaanya. Memek Resty semakin basah saja dengan lendir kawinya, dan Arnoldpun semakin gila memberi rangsangan kepada Resty.

Melihat Resty yang sudah sangat terangsang, dan vagina-nya juga sudah penuh lendir kawin, maka saat itulah Arnold mulai mencoba membenamkan kejantanannya,

“ Sleppp…. AOwwwwww…….. sakitttttttttttt….. sakit bang…Eughhhh, ” jerit Resty pelan.

Saat itu yang masuk baru kepala penis Arnold saja,

“ Sempit sekali yah memek kamu, memek perawan memang tidak ada duanya, ” ucapnya semabri mencabut penisnya lagi.

Arnold mencoba mengeluarkan masukan penisnya dengan perlahan, terus menerus Arnold mencoba menjebol keperawanan Resty. Resty terus merintih kesakitan ditengah Arnold mencoba merenggut keperawanannya. Setelah beberapa kali mmencoba, dengan batang kejantanan yang kuat dan sudah ereksi maksimal Arnold menusukan penisnya,

“ Zlebbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbb…………. Eughhhhhhhhhhhh……. Sakit banggggg…. Aowwwwwwww….., ” jerit Resty pelan sembari tanganya mencengkram kuat-kuat lengan Arnold.

“ Oughhhh…. Akhirnya jebol juga keperawanan kamu, hahaha…, ” ucapnya puas sembari mendiamkan penisnya tertanam dalam-dalam di liang senggama Resty.

Sejenak Arnold mendiamkan kejantanannya tertanam dalam di vagina resty. Arnold sengaja memberi waktu sesaat kepada resty agar rasa sakitnya sedikit hilang. Setelah kira-kira 2 menit, Arnold-pun mulai mengenjot vagina Resty dengan perlahan. Pelan-pelna namun pasti,

“ Oughhh… Huhhhh… Sakit bang, pelan-pelan bang… Aghhh…, ” ucap resty kesakitan.

Arnold tidak berkata sepatah katapun, dia hanya terus memaju mudnurkan penis-nya di dalam liang senggama resty. Seiring keluar masuknya kejantanan Arnold, penisnya berlumur darah perawan bercampur dengan lendir kawin mereka. Arnold dengan konstan terus menggenjot Vagina Resty,

“ Oughhh… nikmat sekali memek kamu sayang… Aghhh…, ” ucapnya nikmat sembari terus menjajah memek resty dengan penisnya.

“ Eughhh.. Eummmm… pelan aja bang, memek aku nyeri rasanya… Oughhh…, ” desah resty masih merasa nyeri karena dia baru saja kehilangan keperawananya.

Sekitar 10 menit Arnold menggenjot denagn perlahan. Nampanya Resty sudah mulai tidak kesakitan lagi. Saat itu dia terus mendesah nikmat, bahkan dia menaik turunkan pinggangnya mengikuti irama tusukan penis Arnold pada vaginanya,

“ Gimana enak kan ??? udah nggk sakit lagikan… Oughhh…, ” ucap Arnold kepada resty.

Saat itu resty hanya mengangguk saja, itu tanda resty sudah tidak kesakitan. Arnold terus memaju mundurkan penisnya, ditengah hubungan sex mereka tiba-tiba saja tubuh Resty bergetar, pahanya dirapatkan dan himpitan vaginaya diperkuat,

“ Ahhhhhhhhhhhh…. Aku pipis bang…. Aghhhhh…, ” ucapnya sembari memejamkan mata dan kepalanya mendongak keatas.

“ Dasar cupu Loe, itu namanya loe orgasme, hahahaha…, ” ucapnya tertawa puas sembari terus menggenjot vagina Resty.

Melihat Resty yag sudah Orgasme, Arnold-pun semakin bernafsu saja. Memek resty semakin basah dengan lendir kawinya. Arnold yang saat itu teringat bahwa dia sedang memperkosa Resty di toilet Mall, dia meulai merasa cemas, dan tan pa buang waktu lalu dia mempercepat genjotan penisnya pada Vagina Resty.

Selang beberapa menit, Arnold-pun merasa dia akan segera klimaks. Makin dipercepat saja hentakan penisnya,

“ Plakkkk… Plakkkk… Plakkkk… Plakkkk…, ” suara hentakan penis Arnold pada vagina Resty.

Tidak lama kemudian tubuh Arnold mulai mengejang, genjotan penisnya dihentikan, lalu dibenamkanlah dalam-dalam kejantanan-nya didalam laiang senggama resty,

“ Ouhhhhhhhhhhhh…. Crottttttttttttttttttt…. Crottttttttttttttttttt…. Crottttttttttttttttttt…. Crottttttttttttttttttt…. , ”

Akhirnya Arnold mendapatkan klimaksnya. Liang senggam resty terbanjiri dengan sperma Arnold yang kental dan banyak sekali. Beberapa saat Arnold mendiamkan kejantananya tertanam didalam vaguna Resty. Setelah menikmati sisa-sisa orgasmenya Arnold-pun segera mencabut penisnya dari dalam vagina resty,

“ Syurrrrrrr…. Syurrrrrrr…., ”

Termuntahkanlah sperma yang bercampur darah segar keperawanan Resty keluar dari kinag senggam resty yang merah merekah itu. Vagina resty saat itu terlihat merah sekali dengan berlumuran sperma dan darah keperawananya. Resty terkapar lemas dialntai toilet itu. Karena Arnold takut ada yang memergoki perbuatanya, maka dia segera bergegas memakai celananhya kembali.

Sebelum dia mengancingkan celananya dia sempat mengelap penisnya dengan tissue yang ada di toilet itu. Setalah merasa dia sudah rapi, kemudian dia-pun mengintip suasan didepan pintu toilet. Setelah memastikan aman dengan cepatnya dia-pun kabur dan membiarkan Resty terkapar lemas di dalam toilet Pria di Mall itu.

Sungguh nasib yang sial bagi Resty pada hari itu. Resty yang sejenak menghela nafas karena lemas setelah diperkosa, kemudian dia-pun segera merapikan diri. Dengan rasa perih pada vaginanya karena diperawani dia-pun keluar dari toilet Pria itu untuk segera pulang kerumahnhya. Benar-benar malang Mahasiwi mungil bertubuh sintal itu.

setelah kejadian itu resty dan keluarganya sempat melapor pada pihak yang berwajib , namun percuma saja melapor karena Arnold sudah tidak mangkal lagi ditempat biasanya. Semenjak kejadian itu Resty mepunyai trauma pada setiap preman. Dia selalu memberi uang pada pengamen maupun preman yang ada di metromini tanpa diminta sekalipun. TamaT. 

CERITA SEX 21+ © 2014. All Rights Reserved | Powered By Blogger | Blogger Templates

Designed by-SpeckyThemes