“Aku gak melihat om telen Viagra hari ini,” katanya pelan. “Om pasti menyukai Yanti!”
Kupindah tanganku ke perutnya, dengan lembut kutekan ke badanku. Tangannya melingkari leher saya, dan menarik perlahan wajahku ke lehernya. Aku pelan menyondol dan menggigiti daerah sensitif lehernya saat tanganku berkeliaran di atasnya. Aku merasa payudara nya yang penuh menggantung, mengangkat dan memijatnya dengan jari-jariku. Aku menggeser tanganku turun dari payudara ke perutnya, merasakan tubuh sensual itu. Saat aku menggosok tanganku di atas puncak paha dan pangkal paha, aku melihat sesuatu yang berbeda – sesuatu yang hilang.
“Seneng yg ini?” bisiknya. “Aku cukurin.” hutan lebat sebelumnya sudah hilang, meninggalkan cukuran Mohawk yang dipangkas dari bulu-bulu subur di tempatnya.
“Ya, seneng bangettss!”
Saat aku menggosok tanganku di atas paha dan pangkal paha, dia menyelipkan tangannya ke bawah saya, dan dengan lembut menggosok klitorisnya yang menonjol. Aku tidak perlu dorongan, aku mulai dengan mudah memijat tonjolan agak keras itu dengan jari-jariku. Yanti mendesah puas, dan terus menggosokkan pantat kenyalnya ke penisku. Dia membungkuk ke depan sedikit, bersandar ke dinding kamar mandi dengan satu tangan, dan dengan tanganya yang lain menggapai dan menggenggam batang saya. Dia mendorong pinggulnya ke belakang, dan aku merasa palkonku memasuki liang yang sesak dan hangat.
“Pelan-pelan,” erangnya parau. “Jangan nyakitin memekku.”
Aku menggosok klitorisnya dengan jari-jariku, kurasakan penisku di sana. Baru sadar aku di mana penisku, dan aku menyukai rasa yang berbeda berada di dalam celahnya dengan berdiri. Aku hati-hati menggerakkan penisku ke depan sedikit, dan merasakan perlawanan ketat atas tusukanku. Perlahan-lahan aku menggenjot penisku yang berkedut-kedut dalam dirinya, pelumasannya sangat alami yang mempermudah jalan di dalam vagina basahnya – dan rasanya sedikit sakit. Aku menyelipkan tanganku yang lain di gunung payudaranya, dan menggosok putingnya, membuat dua putting itu berdiri keluar dari payudara kenyalnya. Aku menggerakkan tanganku sampai lehernya dan mengelus pipinya, kemudian tanganku bergerak di depan mulutnya, dia mencium jari-jariku. Tanganku berpindah kembali ke dadanya, dan menggosok payudaranya yang fantastis dengan puting kerasnya. Perlahan-lahan aku berusaha menggesek seluruh panjang batang penisku dari belakang lalu berhenti. Jemariku terus mengulek dan mengobel klitorisnya yang berdenyut-denyut bersamaan dengan daging payudaranya, membuatnya mengerang keenakan,
“Ummhhh … Rasanya sedap banget!” Aku menyelipkan jari tengahku ke dalam bibir vaginanya yang menggetar dan lezat. “Ohhhhh!” dia mendesah, saat tubuhnya sedikit bergidik. “Ohhhhh yaaahhh!”
Jariku mencari dan menemukan daerah kecil di dinding vagina lezat nya, dan mulai memijat tempat itu. “Laa ilaaah,” erangannya lantang, “Jangan brenti! Ohhhhh … Jangan brenti!”
Vaginanya berkontraksi dan berkedut di jariku, dan jusnya menetes dari vaginanya yang lezat saat aku menggosok telapak tanganku di atasnya klitorisnya yang tegak dan bergerak-gerak. Burungku bisa merasakan jariku yang bergerak masuk ke dalam lorong surga itu, sensasinya luar biasa. Aku menarik tubuhnya merapat kedekatku, dan dia menjerit kesenangan,
“Ouhhhh … Ya di sana, gosok memeknya, ohhhhh … Teruss jangan brenti!”
Otot vaginanya mengepal-ngepal pangkal penisku, dan otot-ototnya meremas dari bawak ke atas dan ke bawah sepanjang batangku. Jariku membelai G-spot, telapak tanganku menggosok klitorisnya yang sensitif, dan Yanti meratap keenakan.
“Ohhhhhh …” dia melolong. “Ohhhhh … Terusss, jangan berenti … Aku mau keluar, aku mau keluar, ohhhhhh …” saat itu ia mendorong pantatnya ke arahku. “Ohhhh … Aku keluar, aku keluar om …”
Genggaman vagina dan ototnya meremas penisku saat aku terus memijat vaginanya yang basah. Kurasakan tubuhnya gemetar dan vaginanya kejang-kejang. “Aaaaaaahhhh …” dia meraung, memukul-mukulkan tangannya di dinding kamar mandi. “Aaaaaahhhh …”
Sewaktu klimaks Yanti berkurang, aku terus memindahkan jariku di dalam lorong manisnya. Aku memindahkan ujung jariku ke kepala penisku, dan itu menyebabkan mulainya orgasmeku sendiri.
“Ahhhh …” Aku mendengus. “Aku keluar!”
Karung bolaku berkontraksi, perasaan sesak yang sangat kukenal, dan tusukanku jadi berdenyut-denyut waktu semburan air mani keluar dari ujungnya ke dalam liang yang menggenggamnya dengan kencang. “Ihhhh …” Aku mengerang tak berdaya. “Ohhhhh …”
“Aaaaahhh …” Yanti meratap waktu orgasme lain datang membuatnya mengejangkan tubuh seksinya keenakan. “Aaahhhhh … Enaaaaak, mmmm, ahhhhhh …”
Ada pancuran hangat keluar dari kepala penisku, yang berdenyut, membanjiri pantatnya dengan air maniku. Semprotan demi semprotan membasahi perut saat liangnya penisku, otot-ototnya bergetar dan bergerak-gerak di penisku yang berdenyut. Bolaku menghabiskan isinya ke liangnya yang ketat, dan terus memompa dengan kacau sampai benar-benar terkuras. Waktu klimaks kami perlahan-lahan berkurang, kami berdua berdiri, terengah-engah, dan merasakan semprotan air hangat di tubuh. Yanti perlahan berdiri tegak, dan penisku yang lemas keluar dari liangnya. Dia berbalik dan melingkarkan lengannya di leherku, dan dengan lembut mencium pipiku.
“Uh, enak banget!” katanya. “Aku tidak pernah nyampe begitu sebelumnya. Belajar dimana om? Dan yang tadi malam sambil bersenandung?”
“Udah sedikit latihan,” aku tersenyum.
“Om bisa latihan ama saya aja nantinya!” katanya sambil tersenyum.
Kami berbilas, melangkah keluar dari kamar mandi, dan berhanduk kering. Aku ganti pakaian bersih, Yanti mengambil pakaian yang sudah dipakai, menghirup, dan mengeriputkan hidungnya yang lucu karena jijik. “Wheeeh … Aku benci pake pakaian kotor sesudah mandi!”
“Aku punya kemeja kamu bisa pakai,” aku menawarkan. “mungkin sedikit kebesaran, tetapi kalo kamu mau …”
“Iya dong”
“Ada di dalam truk, aku segera kembali.”
Aku ke lift ke lantai bawah, naik ke truk, dan menemukan celana pendek dan kemeja putih lengan pendek berkancing. Saat aku berjalan ke kamar, dia menaruh telepon.
“Aku menelepon kafe, tapi terlalu pagi, gak ada siapa-siapa di sana. Aku menelepon Tifa, salah satu penyanyi yang aku tahu dari Seroja, dia bilang mereka mungkin akan kirimin aku gaji terakhir Yanti. Kantor pos bilang mereka ada setumpuk surat yang telah dikumpulinbuat saya, dan mereka buka sampai siang. Aku nelpon yang punya kos, tetapi jawabannya cuma inbox semua. ”
“Wow,” seruku. “Cepat, efisien, dan lengkap! Kamu akan jadi seorang seorang sekretaris yang baik!” Aku menyeringai.
“Om kaget kalo tahu aku bisa macam-macam ‘Om Senang’,” dia menyeringai balik. “Apaan tuh?” sambil menunjuk ke tanganku.
“Pembantu,” kataku. “boxers. Aku pakai ukuran empat puluh, dan kukira cocok …”
“Aku ukuran tiga puluh enam, tahu gak!” ia menyela, cemberut menghias wajahnya.
“Gede,” tambahku buru-buru, “terlalu besar dan … Wah … Baggy ke kamu, dan kamu harus penitiin. Kau jauuhhhh … Lebih kurus dari aku, dan kamu akan ….. ”
“Cukup,” dia tersenyum. “Aku ngerti.”
Dia menemukan peniti di tas toilet punyaku, dan bikin celana pendek jadi lebih kecil. Yanti menghilang dari pandangan di sudut sambil aku duduk di tempat tidur dan menyalakan TV. Ketika ia muncul lagi, dia nampak cantik banget. Rambut hitamnya yang panjang lepas di belakang diikat, dan meskipun dia tidak pakai make up, Yanti terlihat sangat cantik. Dia mengenakan kemeja, bagian bawahnya diikat bersimpul, perutnya yang rata sedikit kelihatan. Dua kancing atas dibuka, memberikan intipan pada payudaranya yang mulus. Dia tidak mengenakan bra, dan aku hanya bisa melihat areola gelap melalui katun kemeja putihnya. Celana jeans di pinggulnya mencetak sempurna bentuk badannya yang langsing.
“Om suka?” saat ia melangkah di depan cermin, memutar dari sisi ke sisi, dan ia lihat bayangannya sendiri.
“Ya, sangat suka!”
“Aku kelihatan gemuk,” ia mengerutkan kening. “Pinggul aku besar.”
“Kamu cantik luar biasa,” kataku. “Kau tampak sempurna!”
Yanti tersenyum mendengar pujian itu, dan menoleh padaku. “Siap? Yuk kita pegi.”
Aku membuka pintu dan dia naik dalam truk. Aku memanjat, menghidupkan mesin, dan dia bertanya, “Om tahu jam berapa sekarang?”
“Sembilan tujuh belas,” kataku sambil melirik jam di radio.
“Aku lapar. Kita ada waktu, Yuk kita cari sarapan!”
“Ide bagus,” kataku. “Yok kita pergi!”
Di sisi seberang jalan aku lihat ‘Simpang Empat’, aku arahkan ke sana, dan memarkir truk. Aku buka pintu, dan ia melompat keluar dan meraih tanganku. Kami berjalan ke restoran, dan mengambil tempat duduk di sebuah bilik.
“Kopi?” meminta pelayan saat ia bawa menu.
“Ya, silakan,” kataku. “Nggak, terima kasih,” kata Yanti. “Aku pingin segelas jus jeruk, dan es teh besar.”
Kami pelajari menu, dan Yanti bertanya aku mau apa. “Mungkin telur dadar.” Jawabku. “gimana kamu?”
“Aku tak tahu,” katanya. “Aku lapar.”
Pelayan datang kembali dengan minuman kami, dan bertanya “Apakah bapak dan putrinya udah siap pesan?”
“Putriku,” pikirku. “Mengapa semua orang pikir dia putriku?”
“Apakah udah siap, Ayah?” Yanti tertawa.
“Telur dadar, bubur ayam, roti,” kataku. “dan kamu, putriku sayang?”
“Aku makan orak-arik telur, ama roti.”
“Aku gak lihat,” kataku, melihat ke menu. Pelayan menunjuk sambil menulisan dengan pennya. ”
“Empat telor “tulisnya. “Empat telor, bubur ayam, sosis dua batang, roti panggang. Tiga krupuk udang, tiga tahu isi, dua tempe goreng, dua bakwan, sambel. Ini jadi sarapan berselera tinggi.”
“Marinir aja makan gak sebanyak itu!” Seruku waktu pelayan ke dapur dengan pesanan kami. “kamu laper atau apaan?”
“Aku gak makan bener udah enam bulan, bapaak!” katanya tajam. “Ingat di mana aku kemaren?”
“Oh ya,” kataku. “Maaf … Lupa.”
“Penjara kasih makannya gak bener, rasa makannya kayak sampah,” katanya, agak ketus. “Mungkin gak bisa disebut makanan!”
“Maafin, aku gak bermaksud bikin kamu sedih.”
Percikan kemarahan menyala di matanya kecoklatan, tapi segera digantikan oleh sesuatu yang lain, tak bisa aku katakan apa. Sarapan kami tiba, dan kami membicarakan sarapan, obrolan ringan tentang kehidupan. Aku menceritakan bagaimana aku bergabung dengan Angkatan Laut langsung dari perguruan tinggi, kerja dua puluh tahun, dan keluar dengan pensiun yang cukup layak. Aku bilang aku menikah tanpa punya anak dan cerai delapan belas tahun yang lalu. Aku menghabiskan sebagian besar hidupku di laut, dan tidak pernah menikah lagi. Aku menjelaskan bagaimana aku mulai mengemudi truk sejak empat tahun lalu, karena aku ingin melihat beberapa tempat sebelum menetap. Yanti menceritakan kisah yang jauh lebih menyedihkan, dari rumah tangga miskin dengan ibu pecandu obat dan ayah yang kasar. Dia menceritakan bagaimana dia meninggalkan kampung halamannya untuk pergi ke perguruan tinggi, dan mulai menyanyi untuk membantu membayar biaya kuliah. Setelah lima semester kuliah, ia jatuh ke dalam perangkap tawaran industri hiburan malam, dan entah bagaimana ia tidak pernah berhasil kembali ke perguruan tinggi. Dia cerita bahwa dia berganti-ganti pacar, pasangan, cinta satu malam yang semuanya punya kesamaan – mereka semua memperlakukannya seperti sampah. Aku tidak termasuk didalam daftarnya, tapi hal itu tidak membuatku senang. Pelayan membawa tagihan, dan mengambil piringku. Aku melihat ke meja, dan lihat Yanti telah membersihkan semua yang ada di piring nya! Dia sudah makan semua kecuali dua batang sosis yang ada di tengah-tengah piringnya.
“Kurang matang?” Kataku, menunjuk ke sosis. “Apa jatuh?”
“Lihat nih,” katanya, dengan pandangan menggoda.
Dia ambil sosis dengan ibu jari dan telunjuk, meletakkan ke bibirnya, dan mulai perlahan-lahan menggerakkan sosis itu keluar masuk di mulutnya.
“Mmmmmm …” lenguhnya, mengerling padaku. “Mmmmmm …”
“Hentikan!” Aku mendesis padanya. “Jangan gitu!”
“Mmmmm …” dia terus mengerang. “keras banget, ngaceng, geliii …”
“Hentikan!”
“Gurih, enak, aku mau yang begini!” dia menyeringai nakal.
Berlawanan dengan protesku, penisku malah jadi hidup akibat dari tontonan erotis itu. Pas waktu kukira bisa jadi lebih mesum lagi, dia menarik sosis sedikit dari mulutnya, diolesinya dengan saus yang tersisa di piring nya, dan kembali menggerakkan di mulutnya. Lidahnya keluar dan berputar di ujung sosis, ia menjilati saus sampai bersih.
“Emmmmm …” lenguhnya sambil mengedipkan sebelah mata padaku. “Enaaakkk!”
Aku menatapnya terpaku, pameran yang seksi, dan penisku berdenyut-denyut seperti itu akan meledak.
“Cukup,” kataku sambil berdiri. “Ayok, kita pergi.”
Cepat-cepat aku melihat bon, dan meninggalkan sejumlah uang dan tip untuk pelayan. Bagian depan celanaku keluar melejit kedepan memalukan, aku menutupinya dengan jaket sehingga tidak ada yang melihat gelagat burungku yang tegak mengamuk. Yanti berjalan keluar pintu disamping saya, tak bilang apa-apa, hanya senyum seperti kucing Anggora. Aku membuka pintu ke truk, dan saat ia naik ke dalam, pantatnya digoyang-goyang dengan provokatif di depan wajahku. Dia memanjat masuk dan duduk, tapi aku memanjat dari belakangnya. Yanti bergerak kembali ke tempat tidur dan duduk membiarkan aku lewat, tapi aku berhenti dan duduk di tepi kursi penumpang.
“Tolong jangan lakukan itu lagi!” Kataku sambil menatap wajahnya.
“Lakukan apa?” dia bertanya, pura-pura tidak bersalah.
“Yang di restoran! Jangan lagi.”
“Karena tadi di depan umum?” katanya, menekankan ‘umum’.
“Enggak,” kataku, “karena aku tidak suka jalan dengan burung ngaceng! Kamu bisa main-main jika kamu mau, cuma jangan ganggu harimau tidur kalau gak siap jadi pawangnya! Jangan anggap… ”
Pemadam kebakaran mendekat, dengan lampu berkedip dan sirene meraung-raung. Ini memperlambat di depan kami, membuat berbelok ke kanan, dan menuju perempatan. Aku berhenti bicara dengannya, dan berbalik untuk nonton. Aku tidak tahu apa ada orang hidup yang tak berhenti untuk nonton pemadam kebakaran – kukira salalu ada kanak-kanak dalam diri kita.
“Okeeey?” kubilang, menoleh padanya. “Apa kamu ngerti apa yang aku. ..”
Dalam beberapa detik kulihat sudah pemadam kebakaran itu lewat, Yanti bajunya telah dipreteli tak tersisa apa-apa, dan berbaring di tempat tidur di belakang jok saya, benar-benar telanjang.
“Sinih,” bisiknya, peregangan di tangan saya. “Sinih, jadi pawang harimauku.”
“Aku. .gue.” aku tergagap, aku berdiri. “Itu bukan maksud. ..”
“Johnny ngaceng! Johnny ngaceng!” ia bernyanyi dengan suara gadis kecil. “Johnny benar-benar menyukaiku, karena Johnny ngacengggg!” sambil ia menggapai ke depan dan menggosok penisku melalui celana. “Sinih!” serunya saat ia mulai buka gesper ikat pinggang saya.
Aku menarik diri darinya, mengunci pintu, dan menutup tirai.
“Ya, aku ngaceng,” kataku sengit. “Kamu harus tahu, kamu yang bikin ngaceng aku!” Aku menendang copot sepatuku, menjatuhkan celana dan celana pendek, dan merangkak di antara kakinya yang panjang terkangkang.
“Aku mau menjinakkan harimaumu!” Desisku marah saat kugosokkan penisku di celah sempitnya yang licin berminyak. “Aku bungkam mulut harimaumu, oke?.” aku mendorong maju, dan penisku dengan mudah nyelip ke vaginanya yang sudah licin. Ototnya menggenggam batangku, dan dia menjerit dengan senang hati.
“Ummmmm …” dia jeritan, “Entotin Yanti.”
Aku mulai memompa penisku masuk dan keluar dari celahnya yang panas- lembut dan menyedot pada awalnya, tapi karena aku penasaran dengan adegan kecil di restoran, dan mulai kugenjot dengan lebih keras. Yanti membuka kancing bajuku, goresan kukunya terasa ringan di dada, dan dia menarik keras puting susuku.
“Entotin Yanti yang keras!” ia menuntut, matanya bernapsu. “Entotin Yanti semaumu!”
Aku mulai menggenjot vaginanya sekeras-kerasnya – kasur bedspringnya mendecit, truk bergoyang, dan bolaku memukul-mukul plek plek plek karena menampar pantatnya. Ini bukan seks lagi – ini adalah siapa mau mengusai siapa. Salah satu dari kami akan kalah dalam lomba ngentot ini, dan aku bertekad untuk tidak kalah. Dia juga. Yanti merasakan vaginanya yang lezat kugempur, dan membalas menyodorkan vagina panasnya ke arahku.
“Ayo, entotin entotin!” dia menggumam. “Entotin Yanti Bapaaaak, entotin aku, entotin aku yang keras!”
Aku bercinta dengan semua tenaga yang kupunya, penisku menggelepar-gelepar dalam liangnya yang lembut, jus hangat mengalir di atas bolaku. “Entotin Yanti, entotin memeknya, entotin Yanti yang kenceng!” dia menangis. “Bikin Yanti keluar, bisa gaaak? Masukin semua, Ayaaaaah! Bisa gaaak? Entotin Yantiiih!”
Dia melingkarkan kakinya yang panjang di belakangku, membenamkan tumitnya ke punggung, dan menarikku ke dalam vaginanya yang berapi-api. “Bisa nglawan aku, Papiii??” dia mendesah, menatap dengan mesum ke mataku. “Yanti cewek yang paling enak dientotin! Entotin Yanti yang keras! Cepetan, entotin memek Yanti!”
Aku seolah mau mampus menyerah, kutaruh tanganku di bawah pantatnya yang bulat, dan kutarik lebih keras ke penisku yang berdenyut-denyut. Tanganku mencengkeram pantatnya begitu ketat, aku tahu ini menyakitinya, tapi dia terus menggesek barangnya di penisku, mengocok klitorisnya keselangkanganku, dan melolong, “Entotin Yanti, entotin aku yang kenceng dan keras Ayaaah!”
Menggapai punggungku, kuambil pergelangan kakinya, dan berhasil kubuka kancing kakinya dari punggungku yang menekan badanku ke badannya. Dia nyengir seolah-olah dia menang, tapi aku cepat melemparkan kakinya, sehingga kakinya terlipat kembali, dan tumitnya hampir menyentuh telinganya. Aku membenamkan penisku masuk dan keluar dari memeknya yang mengeluarkan juice, menggenjot lebih keras, sekeras-kerasnya. Gerakan bergelombang membuat susunya yang besar bergoncang dan bergoyang-goyang, putingnya yang keras berputar acak di udara.
“Oooohhh yeaaaaa,” lenguhnya. “Om cinta ama memek Yanti, kan?”
“Yeeees,” Aku terkesiap, saat kulepaskan pergelangan kakinya dan membiarkan kakinya beristirahat di pundakku. “Ya, aku seneng bangetts …”
“Bilang dong!” dia memohon hangat. “Katakan saja! Katakan om cinta ama memek Yanti!”
“Aku suka memek kamu!” Aku mengerang saat aku membenamkan penisku ke dalam vaginanya yang sedap. “Aku suka memek kamu, Ai lap yu…”
“Emmmmm … Memek aku cinta ama kontol ayah!”
Kami bertatap mata satu sama lain, dan sesuatu di antara kami menyatakan hal yang lebih dalam. Tiba-tiba terasa tidak penting lagi siapa yang menang dalam lomba bercinta ini. Aku berhenti menggoyang penisku ke vaginanya yang basah, dan menggeser posisi batangku sehingga si otong ini menggosok itilnya yang tegak saat aku menusuk sangat dalam, keluar masuk di vaginanya yang empuk.
“Ohhhhh … Apem kamu gurih bangettss!” Aku merintih, “Kamu bikin aku keluar lagi!”
Tangannya mulai menggosok bahu dan lengan saya, saat ia menatap mataku.
“Enngghhhhh …” dia meratap. “Entotin apemku John! Enngghhhhh yaaa, aku mau keluar …”
“Laaaillaaah,” ia menjerit, saat celahnya yang selembut sutra mulai kejang-kejang dan berkontraksi di penisku yang berdenyut-denyut. “Lailaaaah, John! Aku keluar! Keluarin di dalemm, enngghhhhhh …”
“Enngghhhhh …” Aku mengerang karena aku merasa tembakan pertama air maniku muncrat keluar dari kepala penisku. “Enngghhhh …”
“Aaaaaahhh …” Yanti meraung sambil kukunya cakar bahuku. “Keluarin di memekku!”
Mataku tertutup, dan setiap lembar ototku berkontraksi menyatu di penisku. Aku menarik pinggulnya dan mendorong penisku sejauh yang aku bisa ke dalam vaginanya yang bergetar. Bolaku berdenyutan dan berkedut-kedut menempel di lubang belakangnya ketika cairan itu memasuki liang surganya. Pejuku seolah tak habis habis, kental dan lengket, memenuhi liang surgawinya. Tapi dia benar – aku tidak pernah dapat yang lebih baik dari dia. Dia meremas dengan otot vaginanya, menguras semua tetes dari mani yang ada di bolaku sampai terasa sakit selangkanganku, akhirnya kucabut keluar dari lorong penuh cairan itu.
Kuturunkan dengan lembut kakinya dari pundakku, dan saat aku duduk kembali, dia menurunkan kakinya dan menatapku dengan matanya berwarna mahoni. Kami tidak bicara selama beberapa menit, hanya saling menatap, tenggelam dalam pikiran masing-masing, napas kita perlahan-lahan kembali normal.
“Seri,” akhirnya aku berkata sambil menyeringai kepadanya. “Tapi kalau aku telen vitamin V, kamu akan mohon ampun!”
“Ayah gak perlu Viagra lagi kalau ketemu sayanya,” dia menyeringai kembali. “Aku adalah yang dipengeni setiap orang. Nama sayanya ‘Miss Viagra’, itulah aku!” dia tertawa. “Yang paling hebat di Pantura!”
“Kamu nakal sekali, Yanti,” kataku, perlahan-lahan menggeleng-gelengkan kepala dan tersenyum padanya. “Kamu gadis yang nakalll.”
“Ada gadis kecil, yang rambutnya mrintil, di tengah jidatnya yang kecil,” katanya, memulai sajak lama. “Waktu dia hebat, dia jadi dahsyat. Dan ketika dia jahat … Dia jadi bejat!” dia selesai, tersenyum lebar padaku.
“Itu kan kamu,” Aku tersenyum saat aku mengangguk. “Kamu hebat, kamu nakal, dan kamu emang dahsyat. Gak pernah ketemu orang seperti kamu.”
“Aku emang istimewa!” katanya, sambil duduk dan menciumku lembut di pipi. Dia melihat handuk di keranjang cucian saya, menyeka celah sempitnya dimana jus kami bercampur dan mengalir keluar, dan menyerahkan padaku. “Ayo,” katanya, “Aku ada tugas lain.”
Kami berpakaian, dan aku membuka korden. Aku setengah-mengharapkan melihat kerumunan orang di luar bertanya-tanya dan orang-orang berteriak mengapa truk kami bergoyang-goyang, tapi nyatanya tidak ada. Hari cuma hari biasa saja.
Aku mengarahkan truk besar ini ke jalan raya, dan dalam beberapa menit kami mendekati lingkungan dia. Dia mengarahkan, sampai kulihat kantor pos di sebelah kanan, dan aku pinggirkan ke tempat parkir. “Aku segera balik,” katanya, sambil keluar dari truk. “Jangan tinggalin aku.”
“Meninggalkan kamu sekarang atau nanti?” aku berpikir sendiri. “Cepat atau lambat aku harus pergi.”
Yanti kembali beberapa menit kemudian dengan tas kotak penuh surat, majalah, dan junk mail. Dia mendapat masuk ke truk, menaruh kotaknya di tempat tidur, mengambil seikat amplop, dan mulai memilah-milah.
“Sampah, sampah, sampah, sampah,” katanya. “Sampah, tagihan, sampah, sampah, tagihan, tagihan, faktur bank …” saat ia berhenti di sebuah amplop. Dia buka, membaca surat itu dan berkata, “Sial!”
“Apa?”
“Mereka ambil motor saya,” katanya. “Sial! Kukira mereka ambil waktu aku gak bayar. Yaah begitulah, semua manajer keuangan mesum itu juga maunya cuman ngentotin doang.”
“Gak ada orang hidup yang gak pingin ngentotin kamu,” kupikir sendirian. “Pastor aja pasti nyerah,dan mau ngentot ama kamu!”
“Motor apaan?”
“Mio J 2011,” katanya. “Motor bagus, tetapi bayarnya nyekek, dan perlu ganti lampu. Siang-siang disuruh nyalain, aturan paling goblog di dunia” katanya. “Tagihan, sampah, sampah, tagihan, sampah, aha … Ini dia!” saat ia menarik keluar sebuah amplop dan dibukanya.
“Dua juta lima ratus lima puluh ribu rupiah,” kata Yanti, melambaikan gajinya di udara, sebelum memasukkan ke dalam tasnya. “Mereka mengambil lima ratus ribu untuk ‘biaya kunci locker, tapi gapapa.”
“Sampah, tagihan, tagihan, tagihan, sampah,” saat ia mulai membalik-balik tumpukan amplop lagi.
“Eh-oh, dari pemilik kos,” saat ia membuka amplop.
Dia membaca surat itu diam-diam, meletakkannya, melihat ke luar jendela, dan membaca surat itu lagi. “Anjing babi setan belang, BANGSAATTT” ia berteriak sampai terengah-engah. “SIALAN biang anjing! SIALAN sialan, sialan taik, shit! Sialan babi masuk neraka loh!” dia meninjunya di dashboard truk. “Ngentot,” ia berteriak, “Kontolll, APAAN, apaannih!”
“Tenaang, tenaang!” Kataku keras, “Kau bisa pecahin barang! Apa yang salah?”
“Ini!” teriaknya, mengipatkan surat padaku. “aku dikerjain!”
‘Ibu Suyanti yth,’ surat itu dimulai demikian, dan sisanya adalah surat standar. Intinya adalah, kamu tidak bayar sewa/kos beberapa bulan, kami jual barang-barang kamu untuk membayar sewa kos, dan kamu masih berutang tiga bulan sewa kos dan biaya pengacara.
“Aduuh kacau,” dia terisak-isak sambil mulai menangis. “Aku tak punya apa-apa. Mereka telah menjual perabot saya, TV, semua barang-barang saya, bahkan pakaian juga!” ia menangis makin keras. “Aku jadi kacau, aku gak tahu mau ngapain lagi.”
“Aku gak punya tempat lagi, gak ada pakaian, gak ada tempat tinggal, tidak ada motor, tidak ada apa-apa,” dia terisak-isak tak terkendali. “Apa yang aku akan lakukan, di mana aku tinggal? Aku kacau!” dia meratap. “Hidupku jadi kacau!”
Aku duduk diam saat ia bangkit dari kursi dan melangkah ke tempat tidur di belakang jok. Yanti berbaring telungkup dan menangis histeris, aku duduk diam dan mengawasinya.
Follow Us